Syalom
Pak Rudy Sirait... Ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya
Julius Antonio. Asal saya dari Kupang, tetapi sudah tujuh tahun saya menetap
dan bekerja di kota Jakarta. Untuk mencukupkan kebutuhan, maka saya bekerja
rangkap di dua perusahaan swasta yang berbeda. Pagi hingga siang hari saya
bekerja sebagai tenaga IT, lalu sore hari hingga pukul 22.00 WIB saya bekerja
sebagai tekhnisi.
Kemarin
saya merenungkan firman Tuhan dalam Matius 6:24, yang berbunyi seperti ini:
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan
membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang
seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada
Allah dan kepada Mamon.”
Jujur
saja, setelah membaca ayat ini saya agak sedikit bingung dan bertanya dalam
hati, apakah salah bila saya bekerja rangkap? Sepertinya, saya tidak pernah
membeda-bedakan etos kerja saya, baik pada perusahaan yang satu maupun yang
lainnya. Saya bekerja dengan semangat dan sepenuh hati. Apakah ada indikasi
bahwa perkataan Yesus dalam ayat ini sudah tidak lagi relevan dengan kondisi
dunia kerja saat ini? Mohon penjelasannya pak Rudy. Terima kasih banyak. Tuhan
memberkati pak Rudy sekeluarga (Julius Antonio - Jakarta).
Syalom juga pak Julius. Pertanyaan anda
sangat baik dan saya bangga karena di tengah kesibukan kerja yang padat, anda
masih punya waktu untuk merenungkan firman Tuhan. Saya menaruh respek karena
anda berusaha menyelidiki firman Tuhan untuk memastikan kebenarannya. Semoga
jawaban saya dapat menjawab apa yang anda pertanyakan.
Untuk memahami Injil Matius 6:24, perlu
dicermati secara seksama perihal dua kata yang terdapat di dalamnya. Pertama,
kata“abdi.” Hubungan yang dimaksudkan oleh Yesus di sini
adalah hubungan antara tuan dengan abdi, bukan antara atasan (direksi) dengan
bawahan (pegawai). Di era Yesus hidup, seorang abdi secara hukum tidak memiliki
hak. Dia milik tuannya semata dan tuannya dapat berbuat apa saja yang dimaui
terhadapnya. Abdi, budak atau hamba tidak berhak untuk menolak, apalagi sampai
menuntut tuannya. Dalam kenyataannya, tidak ada satu orang hamba milik dua
tuan. Frase “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” menegaskan tentang
kenyataan kepemilikan tunggal seorang hamba.
Abdi juga tidak memiliki waktu, sepenuh waktunya
hanya untuk tuannya. Dia dituntut untuk bekerja rangkap, bahkan serabutan
tetapi hanya kepada satu tuan saja (band. Luk. 17:7-8). Kesiap-siagaan selama
24 jam serta keharusan melaksanakan pekerjaan adalah tuntutan mutlak
perhambaan. Setiap orang Kristen adalah abdi Allah, sementara Allah adalah
Tuan-nya. Kita harus mengabdi hanya kepada Allah. Di era masa kini yang
menentang perbudakan manusia, tidak jadi soal manusia memiliki dua majikan,
tetapi Tuan (Pemiliknya) tetap harus satu.
Kata yang kedua, adalah “Mamon.” Awal mulanya kata
“Mamon” memiliki makna yang positif, tetapi selanjutnya bergeser maknanya
menjadi negatif. Kata “Mamon” berasal dari kata Aram yang berarti “harta milik
bendawi.” Tidak ada yang salah dalam kepemilikan harta benda, karena harta
benda juga merupakan titipan Tuhan. Uang bersifat netral dan tidak berdosa,
tetapi cinta uang itu adalah akar segala kejahatan (lihat 1 Tim. 6:10). Orang
Kristen tidak boleh menjadi hamba uang (2 Tim. 3:2; Ibr. 13:5).
Demi keamanan terhadap kepemilikan harta
benda maka orang-orang pada saat itu mempercayakan mamon atau harta milik
bendawi mereka kepada seseorang atau suatu lembaga untuk dijaga. Seperti halnya
manusia saat ini yang menyimpan uang di Bank agar aman. Tetapi pengaruh Mamon
telah mempengaruhi masyarakat pada saat itu secara luar biasa, mereka bukan
lagi mempercayakan mamon mereka,
tetapi mempercayai. Mamon yang semata
bendawi itu berubah menjadi ilah; bukan lagi sebagai sarana, melainkan
sesembahan. Mamon searti dengan “kekayaan yang tidak halal.”
Akar kata “Mamon” adalah “mn” yang mana kata
“amin” atau “iman” juga berasal dari akar kata yang sama, yang artinya: “yang
pasti, yang dapat diandalkan, yang bertahan.” Tampaknya manusia memiliki
kecendrungan untuk mempercayai “Mamon” karena itulah maka Yesus memberi
peringatan keras agar manusia mengabdi hanya kepada Allah, bukan kepada Mamon.
Allah dan Mamon disejajarkan dalam hal ini, bahkan ditulis dengan huruf besar,
agar mendapat perhatian secara seksama.
Pekerjaan sekular adalah penting dan berharga
di mata Allah, selama pekerjaan itu tidak bertentangan dengan Alkitab yang
adalah firman Allah. Alkitab adalah dasar atau acuan dalam memaknai dunia
pekerjaan. Alkitab relevan dalam segala situasi dan kondisi, bagian kita hanya
mencari relevansinya. Secara tegas Alkitab memberi pandangan yang mulia
terhadap pekerjaan sekular (high view of work). Kontras dengan pandangan Yunani
kuno yang mengatakan bahwa manusia bekerja karena kutukan dewa, atau pandangan
duniawi yang sangat merendahkan harkat dari pekerjaan (low view of work). Umat
Kristen bekerja karena kesegembaran dengan Allah, bukan karena keharusan tragis
atau karena kutukan dewa. He is worker,
You and I co-worker. Allah bekerja menciptakan pohon karet, kita menciptakan
ban karet; Ia bekerja menciptakan pohon jati, kita menciptakan kursi jati.Kita
bekerja sebagai ekspresi kasih, baik terhadap Allah maupun terhadap
sesama.
Allah kita bekerja dalam enam hari untuk
menciptakan langit, bumi dan segala isinya (Kej. 1:31-2:1-3; Kel. 20:9), bahkan
sampai sekarang pun Ia masih bekerja (Yoh. 5:17; Rm. 8:28). Yesus banyak
berbicara tentang dunia pekerjaan (Mat. 20:1-16; 21:33-46). Dan setiap pekerja
layak untuk mendapat upah dari apa yang dikerjakannya (Mat. 10:10; Luk. 10:7; 1
Tim. 5:18). Selain sebagai Rabi, masyarakat saat itu juga mengenal Yesus
sebagai tukang kayu.
Begitu pula dengan rasul Paulus. Ia dipanggil
dan menerima jabatan rasul bagi orang-orang non Yahudi, tetapi juga bekerja
sebagai tukang kemah demi kesinambungan pelayanannya (Kis. 18:3). Perihal etos
kerjanya jangan diragukan, rasul Paulus “telah bekerja lebih keras dari pada
mereka semua” (1 Kor. 15:10) dan melakukannya dengan segenap hati seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23; Flp. 2:14). Dalam suatu peristiwa,
rasul Paulus pernah memberi peringatan, “Jika seorang tidak mau bekerja,
janganlah ia makan” (2 Tes. 3:10). Selain sebagai panggilan ilahi, bekerja
adalah cara ofensif terbaik untuk memerangi kemiskinan, memenuhi kebutuhan dan
menyumbang bagi orang lain. So, let’s work. RRS
Horas pak Pdt. Rudy Sirait...
Saya Lexy Hutagaol seorang penikmat rubrik “Bengkel” yang pak asuh di Majalah
Narwastu Pembaharuan. Ada satu hal yang saya mau tanyakan, sehingga
memberanikan diri untuk menulis email kepada bapak. Apakah hubungan Hukum Taurat
dengan Kasih Karunia dalam aspek keselamatan (soteriologi). Untuk apa
sebenarnya hukum Taurat itu diberikan oleh Allah kepada umat manusia? Dengan
penuh harap saya menunggu jawabannya. Terima kasih sebelumnya. Tuhan memberkati
(Lexy Hutagaol – Medan, Sumut).
Horas jala gabe. Saya
hargai rasa ingin tahu yang ada pada anda. Semoga catatan saya ini dapat
menolong anda untuk memahaminya sehingga kian meluap rasa kagum atas karya
keselamatan yang telah dilakukan oleh Allah atas manusia berdosa makhluk
ciptaan-Nya.
Kasih adalah
salah satu sifat dasar Allah, tetapi apabila kasih itu dihubungkan dengan
orang-orang berdosa maka menjadi kasih karunia. Kata ”kasih karunia” diterjemahkan
dari kata Yunani ”Charis” yang dapat diartikan sebagai: kasih karunia,
anugerah, pemberian, rahmat atau belas kasihan. Dalam konteks soteriologis maka
kasih karunia berarti keselamatan yang sama sekali terpisah dari
jasa-jasa kita atau oleh karena perbuatan baik kita.
Keselamatan bukan terjadi sebagai “hasil pekerjaan” kita
karena pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan di atas kayu salib. Ini adalah
pekerjaan yang dilakukan oleh Allah bagi kita dan Yesus telah melakukannya dengan kasih
karunia-Nya.
Coba sejenak
pertanyaan di bawah ini kita cermati. Dengan apakah seseorang bisa
mendapatkan sesuatu? Saya melihat ada tiga cara yang dapat ditempuh. Pertama, dengan cara halal atau tidak berdosa. Misal, saya berkeinginan
untuk memiliki sebuah televisi maka saya bekerja di sebuah perusahaan dan honor yang saya peroleh saya
gunakan untuk
membeli sebuah televisi. Ini namanya
memperoleh sesuatu dengan cara halal. Cara yang kedua, dengan
cara haramatau dengan cara berdosa. Seperti halnya
pencuri yang menyusup ke dalam rumah untuk mengambil sebuah televisi. Inilah yang
dinamakan memperoleh sesuatu dengan cara tidak halal. Cara
yang ketiga adalah dengan cara
diberi secara cuma-cumaatau kasih karunia. Saya mendatangi anda
lalu memberikan secara cuma-cuma sebuah televisi sehingga
anda memiliki sebuah televisi. Karena berupa pemberian, maka anda tidak perlu
untuk membayarnya, tetapi anda bisa saja menolak atau tidak sudi untuk
menerimanya.
Bila kita hubungkan dengan keselamatan
kekal, cara manakah yang paling tepat
untuk memperoleh hidup kekal? Mungkinkah dan dapatkah manusia
manusia berdosa meraih hidup kekal dengan cara halal? Saya jamin tidak,
karena manusia punya kecendrungan untuk berdosa, baik secara sengaja maupun
tidak sengaja. Dosa yang menyebabkan manusia tersesat (Mat. 18:11 ;
Luk. 15:4,8,24). Jika tidak mendapat pengampunan, maka dosa menyebabkan
manusia menjadi binasa (Rm. 3:23; 6:23; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 1:9).
Bila kita mengacu kepada cara yang kedua yaitu dengan
cara haram maka sudah pasti manusia tidak akan mungkin dan tidak akan dapat
beroleh hidup yang kekal.Sesuatu yang haram dan berdosa tidak akan pernah membuat
manusia beroleh hidup yang kekal. Karena itu, cara yang paling
tepat dan logis untuk beroleh hidup yang kekal hanyalah dengan
cara diberi secara cuma-cuma oleh karena kasih karunia Allah.
Kata Yunani
yang seharusnya diterjemahkan “dengan cuma-cuma” dalam Yohanes
15:25 oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan menjadi “tanpa
alasan”. Terjemahan ini sangatlah tepat karena kita
dibenarkan tanpa alasan! Tidak ada satupun dalam diri manusia yang
membuat ia pantas atau layak menerima keselamatan dari Allah.
Semua ini karena kasih karunia, diberi secara cuma-cuma.
Keselamatan kekal adalah pemberian bukan pahala. Oleh
karena itu janganlah
kita sampai
menyia-nyiakannya (band. Ibr. 2:3). Secara eksplisit Alkitab memberi penegasan
bahwa yang terpenting bukanlah sekedar memiliki
keselamatan, melainkan jugamengerjakan keselamatan dengan sikap takut dan gentar (Flp. 2:12). Dan Allah mengendaki agar orang yang telah diselamatkan itu hidup di
dalamnya (band Ef. 2:10; Gal. 5:13).
Mari kita maknai
lebih dalam lagi. Mengapa kasih karunia Allah bersifat penting? Apa yang menjadi
dasar sehingga kasih karunia itu dinyatakan kepada manusia berdosa? Ada tiga
hal secara mendasar bila saya melihatnya.Pertama, karena kasih karunia
Allah maka manusia
dapat terbebas dari belenggu dosa dan diperdamaikan dengan Allah.
Standar Allah bukanlah standar moral seperti yang ditekankan
oleh Hukum Taurat melainkan standar kasih.
Hukum Taurat diberikan bukan untuk menyelamatkan manusia, melainkan untuk menunjukkan kepada manusia bahwa
ia perlu diselamatkan (Rm. 4:14-15). Manusia berdosa diselamatkan bukan karena
ia terlepas dari kesalahan hukum Taurat karena tidak seorangpun yang dibenarkan
di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat (Gal. 5:4). HukumTaurat tidak
menyelamatkan manusia, tetapi
hanya membuat manusia mengenal dosa (band. Rm. 3:20). Pengenalan terhadap
hakekat dosa akan menyadarkan manusia betapa dahsyatnya akibat dari dosa
tersebut.
Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Yesus Kristus
datang seperti yang telah dijanjikan-Nya itu supaya kita
dibenarkan oleh iman (Gal. 3:19-24).
Jadi pembenaran orang berdosa bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena kasih
karunia (Ef. 2:8-9) oleh karena ia beriman kepada Yesus Kristus sebagai juru
selamatnya secara
pribadi (Rm. 1:17-18; Gal. 3:11). Intinya, hukum Taurat itu menunjukkan bahwa manusia
butuh Juru selamat. Dan Yesus Kristus adalah kegenapan dari Hukum Taurat itu (Rm. 10:4; 8:1-4; 2 Kor. 5:21).
Dosa tidak akan pernah dapat
diselesaikan oleh manusia secara pribadi. Malah bila dibiarkan maka manusia
makin berdosa dan bertambah jahat. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah
sendiri
yang berinisiatif
untuk menebus manusia dari keberdosaanya (lihat Kej
3:15 band. Yes
7:14; 9:5; 52:13-53:12; Mi. 5:1; Mat. 1;23; Yoh. 3:16; Rm. 6:23). Karena Allah
mengetahui secara pasti bahwa manusia tidak dapat menyelesaikan persoalan
dosa, maka Ia menyatakan kasih karunia-Nya. Tanpa kasih karunia maka
status saya dan saudara tetap sebagai tawanan atau budak dosa dan
akan menjadi korban penghukuman akibat dari perbuatan dosa.
Kedua, Karena kasih
karunia maka Allah tidak menghendaki siapapun untuk binasa. Yang
dikehendaki oleh Allah adalah supaya semua orang diselamatkan
(lihat 1 Tim. 2:4) dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk beroleh hidup yang kekal
(Yoh.
3:16; 2 Ptr. 3:15).Kematian Kristus di kayu
salib adalah tindakan Allah untuk merealisasikan keselamatan bagi manusia
berdosa. Tetapi realisasi ini butuh pengakuan dan respon dari manusia berdosa
dalam menanggapi keselamatan yang ditawarkan kepadanya. Manusia berdosa
hanya dituntut
untuk mengakui dengan mulutnya dan percaya dengan segenap hati kepada Yesus
Kristus maka ia diselamatkan (band. Rm. 10:9-10). Bila disimpulkan maka kematian
Kristus di kayu salib ditawarkan untuk semua manusia, tetapi berlaku hanya bagi
mereka yang percaya kepada-Nya (band. Yoh. 3:16; 14:6; Kis. 4:12).Bukan universalisme,
melainkan universalitas.
Perbuatan baik atau kesalehan hidup
tidak akan pernah dapat membuat manusia berdosa beroleh keselamatan kekal. Kita
diselamatkan bukan karena perbuatan baik karena perbuatan baik yang kita
perbuat tidak akan pernah mampu untuk membayar atau menebus dosa yang telah kita
perbuat.
Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan, bukan sarana keselamatan (baca Ef. 2:8-10).Karena itu orang
yang sudah diselamatkan layak untuk berbuahkan kebaikan dan memang sepatutnya adalah
demikian.
Mungkin anda berkata kalau karena kasih karunia kita
diselamatkan, apa pentingnya lagi kita berbuat baik? Lalu, untuk apa kita mencari pahala atau
mengejar mahkota? Alkitab menegaskan bahwa di surga nanti kita akan berhadapan
dengan Yesus yang duduk di takhta-Nya. Di hadapan takhta-Nya itulah kita akan
melemparkan pahala atau mahkota yang kita peroleh saat hidup di dunia ini. Kita
melakukannya sebagai suatu pujian dan pengaguman kepada Yesus Kristus yang
telah menyelamatkan kita (lihat Why. 4:10). Kalau kita tidak memiliki mahkota,
apa yang akan kita lemparkan nanti di surga saat menghadap takhta-Nya?
Ketiga, Allah ingin menyatakan kasih-Nya yang besar kepada manusia berdosa(Yoh. 3:16). Karena kasih maka Allah mengampuni
orang-orang berdosa,
tetapi keadilan Allah menuntut konsistensi Allah untuk menyatakan keadilan-Nya.
Allah tidak dapat melanggar ketetapan-Nya sendiri atau mengingkari sifat-Nya sama sekali. Secara adil maka Allah akan menghukum manusia karena
dosa yang telah diperbuatnya
(lihat
Kej. 3:16-19).
Dan maut adalah upah atas dosa yang telah diperbuat oleh manusia (Rm. 6:23).
Tetapi jangan pernah diabaikan bahwa
Allah yang maha adil itu (Mzm. 7:12; Yes. 30:8; Yoh.
17:25; I Yoh. 2:1), juga adalah Allah yang maha kasih (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 4:8).Kasih dan keadilan Allah
berjalan bersamaan, tanpa mengurangi dan kontradiksi satu sama lain. Seperti
keadilan yang telah dinyatakan-Nya, maka secara otomatis kasih Allah
juga harus dinyatakan atas manusia berdosa.Untuk mewujudkan
kasih-Nya maka Allah sendiri yang melakukan prakarsa untuk menyelamatkan
manusia berdosa. Tidaklah mungkin Allah membiarkan manusia sementara Dia
sendiri mengetahui secara pasti bahwa manusia tidak
akan
pernah mampu untuk menyelamatkan dirinya dari belenggu dosa. Adalah suatu
kesombongan bila manusia beranggapan dapat menyelesaikan persoalan dosa pribadi dengan
kesalehan atau melalui perbuatan baiknya.
Alkitab tegas mengatakan bahwa kematian Kristus di kayu
salib membenarkan manusia berdosa, ”Oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma
karena penebusan dalam Kristus Yesus”
(Rm.
3:24 band. Rm. 6:23; Ef.
2:8-9). Kasih Allah itulah yang menutupi segala dosa (band.
1 Kor. 13:7).Kasih
Allah adalah dasar dari pembenaran terhadap orang berdosa. Nah, bagaimana Allah yang kudus
itu dapat membenarkan orang-orang berdosa? Lalu apa langkah yang ditempuh oleh Allah
terkait dengan kedua sifat-Nya itu, yakni: kasih terhadap orang berdosa dan keadilan ditegakkan bagi
orang berdosa? Bagaimana Allah dapat bersifat adil, tetapi juga menyelamatkan
orang berdosa sebagai wujud dari kasih-Nya? Jawabannya ada dalam diri Yesus Kristus. Salib adalah
bukti bahwa Yesus menanggung murka Allah di Golgota untuk menebus manusia
berdosa sekaligus menyatakan kasih-Nya. Dan Yesus telah memenuhi fakta-fakta hukum
Allah secara sempurna dan juga sempurna dalam mengungkapkan
kasih Allah bagi umat manusia ciptaan-Nya.
Dua kisah
di
bawah ini cukup representatif untuk menolong kita
dalam
memahami perihal kasih karunia Allah. Dr. G. Campbell Morgan sedang
berusaha menjelaskan “Keselamatan yang cuma-cuma” kepada seorang penggali
tambang batu bara, tetapi penggali tambang itu tetap saja tidak dapat
memahaminya. Sambil tetap ngotot mempertahankan pendapatnya ia tetap mendebat
Dr. Morgan dengan berkata, “Saya harus membayar untuk memperolehnya.”
Berkat
hikmat dari Allah lalu Dr. Morgan melontar pertanyaan, “Bagaimana
anda
dapat menuruni tambang tadi pagi?” “Mudah sekali,” jawab
orang itu. “Saya hanya masuk ke dalam lift, lalu turun.”
Kemudian Dr. Morgan berkata, “Sangat mudah, bukan? Anda tidak harus membayar sesuatu untuk
itu.”Penambang itu tertawa. “Tidak, saya
tidak usah membayar apa-apa, tetapi perusahaan tentunya mengeluarkan banyak
biaya untuk mengadakan lift di penambangan ini.” Akhirnya
penggali tambang itu dapat melihat kebenaran Allah sambil berkata: “Saya tidak
membayar sesuatu apa pun untuk diselamatkan, tetapi Allah membayarnya dengan
hidup Anak-Nya.”
Pada
abad ke-20, Kaisar Tsar Rusia pernah digoncang kepemimpinannya oleh kelompok
revolusioner yang dipimpin oleh seorang pejuang bernama Shamila.
Shamila dan kelompoknya hidup mengembara dan berpindah pindah untuk maksud
menggulingkan Tsar Rusia.
Dalam suatu peristiwa
seorang bawahan Shamila datang ke tendanya untuk melaporkan bahwa
persedian makanan mereka telah dicuri. Shamila kesal bukan kepalang karena
persediaan makanan sangat terbatas. Segera ia mengumpulkan semua anggotanya dan
menetapkan sebuah keputusan yang bersifat yuridis bila tertangkap basah mencuri makanan maka sang pencuri akan
menerima
hukuman cambuk dan semua anggota harus menyaksikan agar mereka tidak
ikut-ikutan mencuri. Tidak lama setelah Shamila mengeluarkan ketetapan,
pengawalnya datang menghadap kembali untuk memberitahukan bahwa
makanan kembali dicuri, tetapi pencurinya sudah tertangkap.
Tragisnya
yang tertangkap sebagai pencuri itu adalah ibu kandung Shamila sendiri.
Selanjutnya, apa yang terjadi? Apakah Shamila akan membebaskan ibunya karena memang ia
sangat mengasihi ibunya itu? Atau sebaliknya membiarkan ibunya dicambuki di depan
mata kepalanya sendiri. Tentulah Shamila mengalami dilema dan konflik batin.
Menurut Anda apa yang akan dilakukannya? Bila Shamila membebaskan ibunya
sebagai bukti kasih kepada orang yang sangat dikasihinya itu maka pengikutnya akan
menganggap ia sebagai pemimpin yang tidak adil. Atau sebaliknya, bila ia
mencambuki ibunya maka orang-orang akan mengatakan bahwa ia tidak mengasihi
ibunya. Seluruh pengikutnya menantikan bagaimana tindakan Shamila dalam mengatasi
problema yang terjadi. Di depan banyak orang Shamila melepaskan jubahnya dan
memerintahkan agar pengawal mencambuki dirinya. Tindakan seperti ini dilakukan
oleh Shamila karena didasari oleh kasihnya kepada ibunya, tetapi juga sekaligus menyatakan
keadilan yang harus ditegakkan.
Hal
seperti itulah yang dilakukan oleh Allah kepada manusia berdosa ciptaan-Nya. Allah sendiri
yang turun tangan untuk mengatasi problema dosa. Yesus rela memberi diri-Nya
untuk menderita di kayu salib agar keadilan
Allah atas dosa dapat ditegakkan dan kasih
Allah atas manusia berdosa juga sekaligus
dinyatakan sehingga
umat yang dikasihi-Nya beroleh hidup yang kekal.Allah
itu kasih (1 Yoh. 4:8, 16). Ia penuh anugerah dan mengetahui secara pasti bahwa
manusia membutuhkan kasih karunia karena tak
satupun manusia mampu melepaskan
diri dari jerat dan hukuman dosa. Pertanyaannya, maukah
kita menerima kasih karunia itu dan hidup di dalamnya?(RRS)
Syalom pak Pdt. Rudy
Sirait. Mohon dijelaskan surat Roma 12:1, perihal ungkapan "persembahan
yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Dalam bahasa Yunani
kata kudus berasal dari kata “hagios.” Gramcord: kata sifat, feminim, single,
accusative, no degree. Jenis “feminim” di sini apakah ada kaitannya dengan kekudusan,
ya?(Elyas Abraham Tobing, Surabaya).
Syalom pak Elyas... Saya bangga karena anda
sangat berantusias untuk meneliti kedalaman kitab suci. Semoga catatan saya ini dapat membantu anda untuk memahami perihal dari apa yang anda pertanyakan. I hope so.
Inti dari ayat ini
adalah persembahan sempurna yang dituntut oleh Allah atas setiap umat
Kristiani, yaitu: “persembahan tubuh yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”
(lihat Rm. 12:1). Persembahan seperti inilah yang dinyatakan sebagai ibadah yang
sejati. Tampaknya anda mulai tertarik untuk memahami makna perihal ibadah yang sejati. Baiklah, secara runtut kita akan coba untuk membahasnya.
Kata ”sejati” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata sifat Yunani λογικην(logiken) yang secara
literal dapat diartikan: logis, rasional atau masuk akal. Itu berarti,
mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah adalah tindakan atau kegiatan yang masuk akal, logis atau
rasional. Dalam sudut pandang duniawi,
rasanya tidak masuk akal bila kita dapat
mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang kudus. Tetapi dalam
sudut
pandang surgawi, itu merupakan hal yang logis untuk dipersembahkan oleh
umat percaya kepada Allah.
Tuhan tidak lagi menuntut
persembahan-persembahan yang mati, seperti dalam Perjanjian Lama. Yesus Kristus
telah mempersembahkan tubuh-Nya untuk mengapus yang pertama (persembahan yang
mati) supaya yang kedua (persembahan tubuh yang hidup) ditegakkan (band. Ibr. 10:1-10).
Tuhan tidak menuntut kita untuk mati
bagi Dia, yang dikehendaki-Nya ialah agar kita hidup
bagi-Nya. Tuhan juga tidak memerintahkan kita untuk memusuhi dunia, sebab Dia sendiri sangat mengasihi dunia ini (band. Yoh.
3:16). Yang dikehendaki-Nya adalah agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini (lihat Rm. 12:2).
Mari kita cermati makna gramatikalnya. Kata
“mempersembahkan” dalam Roma 12:1 berasal dari kata Yunani, παραστησαι
(parastesai). Jenisnya berupa kata kerja Infinitif dengan
kala (tense) Aoris Aktif. Dalam
penggunaannya maka aoris aktif untuk menekankan keberlangsungan tindakan secara
terus menerus. Sementara Infinitif
adalah kata kerja yang sekaligus juga kata benda (Nomina-Verba). Sebagai kata
kerja ia memiliki diatesis dan kala. Sedangkan sebagai kata benda, ia dapat berfungsi
serta memiliki karakteristik sebagaimana layaknya kata benda. Di satu pihak, ia
memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata kerja, di pihak lain ia
memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata benda. Dalam hal ini,
Infinitif digunakan untuk menyatakan tujuan atau sasaran tindakan dari kata
kerja yang dihubungkan dengannya.
Karena itulah, maka kata “mempersembahkan”
dalam ayat ini harus diartikan “mempersembahkan sekali untuk selamanya.”
Tuntutan mempersembahkan tubuh kepada Allah dalam ayat ini tidak ubahnya
seperti pengantin pria dan wanita yang menyerahkan tubuh mereka sekali untuk
selama-lamanya hanya kepada pasangan hidup mereka saja. Penyerahan tubuh kepada yang
lain atau yang bukan pasangan hidupnya adalah perbuatan zinah, kotor dan
berdosa.
Kata ”kudus” dalam ayat ini bukan berupa kata
benda, melainkan kata sifat. Kata sifat berfungsi untuk menyatakan sifat atau
keadaan. Diterjemahkan dari kata Yunani αγιαν(hagion) yang secara
hurufiah berarti: “dipisahkan” atau “dikhususkan.” Itu berarti, mempersembahkan tubuh kepada
Allah berupa tindakan atau perbuatan untuk “memisahkan” atau “mengkhususkan” tubuh ini hanya untuk Allah
semata. Dalam posisinya sebagai
”predikatif” maka kata sifat membuat suatu pernyataan tentang kata
benda. Itu berarti, kata sifat “yang kudus” di sini mendapat tekanan sedikit
lebih besar dari pada kata benda “sebagai persembahan”.
Setiap
kata benda mempunyai jenis. Secara mendasar ada tiga jenisnya, yaitu: maskulin,
feminim dan netral. Jenis dari kata benda tidak ditetapkan berdasarkan jenis
kelamin, melainkan berkaitan dengan kategori
gramatika. Kata “persembahan yang kudus”
dengan jenis feminim
berhubungan erat dengan kata “kepada Allah” yang jenisnya adalah maskulin. Hal ini jelas mengindikasikan
perihal Yesus yang adalah mempelai pria dan gereja-Nya yang adalah mempelai
wanita. Sebagai mempelai pria, Yesus sudah terlebih dahulu mempersembahkan
tubuh-Nya bagi gereja, sang mempelai-Nya. Karena itu sangatlah beralasan, logis dan masuk akal bila Ia pun menuntut mempelai wanita untuk mempersembahkan tubuhnya hanya semata bagi Dia. Dan persembahan inilah yang menjadi dasar mutlak
untuk hubungan di antara kedua mempelai.
Tubuh kita adalah sarana korban persembahan
bagi Allah. Sebelum kita percaya kepada Yesus, tubuh ini kerap kali kita
gunakan untuk kesenangan duniawi dan ragam kejahatan. Tetapi setelah kita
beriman kepada Kristus maka tubuh ini menjadi bait Allah (1 Kor. 3:16; 6:19-20)
dan Roh Allah berdiam di dalamnya (Rm. 8:9). Karena itu kita harus
mempergunakan tubuh ini untuk kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus (Flp.
1:20-21). Bagaimana hal itu bisa terwujud? Aplikasi praktisnya adalah dengan cara
“hidup oleh Roh” dan “memberi diri dipimpin oleh Roh” maka kamu “tidak akan
menuruti keinginan daging” dan tidak hidup di bawah hukum Taurat” (baca Gal.
5:16-18).
Bila kita hidup oleh Roh maka kita akan disempurnakan oleh Roh,
sehingga kita mampu untuk hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan berarti
penyangkalan terhadap keinginan daging. Keinginan daging bertentangan dengan
keinginan Roh (Gal. 5:17). Keinginan Roh dapat terwujud bila kita hidup oleh
Roh. Kita tidak akan pernah dapat mengalahkan keinginan daging tanpa pimpinan
Roh (Gal. 5:18). Jadi, metode atau kiat praktis dan logis untuk mengalahkan keinginan daging bukanlah menggunakan kehendak kita dalam melawan kedagingan,
melainkan menyerahkan kehendak kita kepada Roh Kudus.
Semoga ilustrasi di bawah ini dapat memberi inspirasi bagi kita untuk
memahami perihal hidup oleh Roh. Dua ekor kuda, yaitu: Kuda Hitam dan Kuda
Putih memiliki postur tubuh dan kecepatan lari yang sama. Tetapi setiap
kali dipertandingkan sang Kuda Hitam selalu memenangkan perlombaan. Suatu hari sang
pemilik kedua ekor kuda tersebut menginginkan agar Kuda Putih yang menang saat
dipertandingkan. Bagaimana caranya? Tiga bulan sebelum dipertandingkan, maka
sang pemilik mengurangi porsi makan dan latihan terhadap Kuda Hitam, tetapi sebaliknya
ia menambahkan porsi makan dan latihan kepada Kuda Putih. Akibatnya Kuda Hitam menjadi lemah dan lamban, berbeda halnya dengan Kuda
Putih yang makin kuat dan bertambah kencang larinya. Ternyata cara ini sungguh mujarab karena Kuda Putih akhirnya memenangkan
pertandingan saat diperlombakan. Kehidupan kitapun tidak ubahnya seperti itu, bila kita senantiasa hidup oleh Roh dan memberi diri dipimpin oleh Roh
maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Bila kita senantiasa mengkonsumsikan
hal-hal yang rohani maka lambat laun keinginan daging itu kian menipis dan kuasanya
kian melemah.
Coba cermati pernyataan “tidak akan” dalam Galatia 5:16 ini, apa maksudnya? Kata “tidak akan” tentu berbeda artinya dengan kata “tidak lagi”.
Artinya orang yang dipimpin oleh Roh bisa saja berdosa karena kelemahan dan kekhilafannya, tetapi ia tidak akan pernah menikmati atau sudi
diperhamba oleh dosa. Ia akan bangkit dari kejatuhannya dan berusaha untuk
menolak tawaran dosa dengan kekuatan yang didapatnya dari Tuhan.
Masih dalam suasana memperingati hari
kemerdekaan Republik Indonesia, ijinkan saya menyapa anda sekalian dengan
pekik, "Merdeka!" Bila anda menyetujuinya, balaslah dengan
mengatakan, "Merdeka" secara lantang. Sambil mengatakannya, ingatkan
juga diri anda bahwa status anda adalah orang yang sudah dimerdekakan. Merdeka!!! (RRS)