Tampilkan postingan dengan label Diskusi Korespondensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi Korespondensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

Pdt. Rudy Sirait, S.Th, MA.CE - Bekerja Rangkap, BolehKah?

Bekerja Rangkap, Bolehkah?
(Refleksi Injil Matius 6:24)


Syalom Pak Rudy Sirait... Ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Julius Antonio. Asal saya dari Kupang, tetapi sudah tujuh tahun saya menetap dan bekerja di kota Jakarta. Untuk mencukupkan kebutuhan, maka saya bekerja rangkap di dua perusahaan swasta yang berbeda. Pagi hingga siang hari saya bekerja sebagai tenaga IT, lalu sore hari hingga pukul 22.00 WIB saya bekerja sebagai tekhnisi.
Kemarin saya merenungkan firman Tuhan dalam Matius 6:24, yang berbunyi seperti ini: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Jujur saja, setelah membaca ayat ini saya agak sedikit bingung dan bertanya dalam hati, apakah salah bila saya bekerja rangkap? Sepertinya, saya tidak pernah membeda-bedakan etos kerja saya, baik pada perusahaan yang satu maupun yang lainnya. Saya bekerja dengan semangat dan sepenuh hati. Apakah ada indikasi bahwa perkataan Yesus dalam ayat ini sudah tidak lagi relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini? Mohon penjelasannya pak Rudy. Terima kasih banyak. Tuhan memberkati pak Rudy sekeluarga (Julius Antonio - Jakarta).

Syalom juga pak Julius. Pertanyaan anda sangat baik dan saya bangga karena di tengah kesibukan kerja yang padat, anda masih punya waktu untuk merenungkan firman Tuhan. Saya menaruh respek karena anda berusaha menyelidiki firman Tuhan untuk memastikan kebenarannya. Semoga jawaban saya dapat menjawab apa yang anda pertanyakan.
Untuk memahami Injil Matius 6:24, perlu dicermati secara seksama perihal dua kata yang terdapat di dalamnya. Pertama, kata “abdi.” Hubungan yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah hubungan antara tuan dengan abdi, bukan antara atasan (direksi) dengan bawahan (pegawai). Di era Yesus hidup, seorang abdi secara hukum tidak memiliki hak. Dia milik tuannya semata dan tuannya dapat berbuat apa saja yang dimaui terhadapnya. Abdi, budak atau hamba tidak berhak untuk menolak, apalagi sampai menuntut tuannya. Dalam kenyataannya, tidak ada satu orang hamba milik dua tuan. Frase “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” menegaskan tentang kenyataan kepemilikan tunggal seorang hamba.
Abdi juga tidak memiliki waktu, sepenuh waktunya hanya untuk tuannya. Dia dituntut untuk bekerja rangkap, bahkan serabutan tetapi hanya kepada satu tuan saja (band. Luk. 17:7-8). Kesiap-siagaan selama 24 jam serta keharusan melaksanakan pekerjaan adalah tuntutan mutlak perhambaan. Setiap orang Kristen adalah abdi Allah, sementara Allah adalah Tuan-nya. Kita harus mengabdi hanya kepada Allah. Di era masa kini yang menentang perbudakan manusia, tidak jadi soal manusia memiliki dua majikan, tetapi Tuan (Pemiliknya) tetap harus satu.
Kata yang kedua, adalah “Mamon.” Awal mulanya kata “Mamon” memiliki makna yang positif, tetapi selanjutnya bergeser maknanya menjadi negatif. Kata “Mamon” berasal dari kata Aram yang berarti “harta milik bendawi.” Tidak ada yang salah dalam kepemilikan harta benda, karena harta benda juga merupakan titipan Tuhan. Uang bersifat netral dan tidak berdosa, tetapi cinta uang itu adalah akar segala kejahatan (lihat 1 Tim. 6:10). Orang Kristen tidak boleh menjadi hamba uang (2 Tim. 3:2; Ibr. 13:5).
Demi keamanan terhadap kepemilikan harta benda maka orang-orang pada saat itu mempercayakan mamon atau harta milik bendawi mereka kepada seseorang atau suatu lembaga untuk dijaga. Seperti halnya manusia saat ini yang menyimpan uang di Bank agar aman. Tetapi pengaruh Mamon telah mempengaruhi masyarakat pada saat itu secara luar biasa, mereka bukan lagi mempercayakan mamon mereka, tetapi mempercayai. Mamon yang semata bendawi itu berubah menjadi ilah; bukan lagi sebagai sarana, melainkan sesembahan. Mamon searti dengan “kekayaan yang tidak halal.”
Akar kata “Mamon” adalah “mn” yang mana kata “amin” atau “iman” juga berasal dari akar kata yang sama, yang artinya: “yang pasti, yang dapat diandalkan, yang bertahan.” Tampaknya manusia memiliki kecendrungan untuk mempercayai “Mamon” karena itulah maka Yesus memberi peringatan keras agar manusia mengabdi hanya kepada Allah, bukan kepada Mamon. Allah dan Mamon disejajarkan dalam hal ini, bahkan ditulis dengan huruf besar, agar mendapat perhatian secara seksama.
Pekerjaan sekular adalah penting dan berharga di mata Allah, selama pekerjaan itu tidak bertentangan dengan Alkitab yang adalah firman Allah. Alkitab adalah dasar atau acuan dalam memaknai dunia pekerjaan. Alkitab relevan dalam segala situasi dan kondisi, bagian kita hanya mencari relevansinya. Secara tegas Alkitab memberi pandangan yang mulia terhadap pekerjaan sekular (high view of work). Kontras dengan pandangan Yunani kuno yang mengatakan bahwa manusia bekerja karena kutukan dewa, atau pandangan duniawi yang sangat merendahkan harkat dari pekerjaan (low view of work). Umat Kristen bekerja karena kesegembaran dengan Allah, bukan karena keharusan tragis atau karena kutukan dewa. He is worker, You and I co-worker. Allah bekerja menciptakan pohon karet, kita menciptakan ban karet; Ia bekerja menciptakan pohon jati, kita menciptakan kursi jati.Kita bekerja sebagai ekspresi kasih, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama.     
Allah kita bekerja dalam enam hari untuk menciptakan langit, bumi dan segala isinya (Kej. 1:31-2:1-3; Kel. 20:9), bahkan sampai sekarang pun Ia masih bekerja (Yoh. 5:17; Rm. 8:28). Yesus banyak berbicara tentang dunia pekerjaan (Mat. 20:1-16; 21:33-46). Dan setiap pekerja layak untuk mendapat upah dari apa yang dikerjakannya (Mat. 10:10; Luk. 10:7; 1 Tim. 5:18). Selain sebagai Rabi, masyarakat saat itu juga mengenal Yesus sebagai tukang kayu.
Begitu pula dengan rasul Paulus. Ia dipanggil dan menerima jabatan rasul bagi orang-orang non Yahudi, tetapi juga bekerja sebagai tukang kemah demi kesinambungan pelayanannya (Kis. 18:3). Perihal etos kerjanya jangan diragukan, rasul Paulus “telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua” (1 Kor. 15:10) dan melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23; Flp. 2:14). Dalam suatu peristiwa, rasul Paulus pernah memberi peringatan, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes. 3:10). Selain sebagai panggilan ilahi, bekerja adalah cara ofensif terbaik untuk memerangi kemiskinan, memenuhi kebutuhan dan menyumbang bagi orang lain. So, let’s work. RRS

Minggu, 02 September 2012

Pdt. Rudy R. Sirait, S.Th, MA.CE - Hukum Taurat vs Kasih Karunia


Hukum Taurat vs Kasih Karunia

Horas pak Pdt. Rudy Sirait... Saya Lexy Hutagaol seorang penikmat rubrik “Bengkel” yang pak asuh di Majalah Narwastu Pembaharuan. Ada satu hal yang saya mau tanyakan, sehingga memberanikan diri untuk menulis email kepada bapak. Apakah hubungan Hukum Taurat dengan Kasih Karunia dalam aspek keselamatan (soteriologi). Untuk apa sebenarnya hukum Taurat itu diberikan oleh Allah kepada umat manusia? Dengan penuh harap saya menunggu jawabannya. Terima kasih sebelumnya. Tuhan memberkati (Lexy Hutagaol – Medan, Sumut).

            Horas jala gabe. Saya hargai rasa ingin tahu yang ada pada anda. Semoga catatan saya ini dapat menolong anda untuk memahaminya sehingga kian meluap rasa kagum atas karya keselamatan yang telah dilakukan oleh Allah atas manusia berdosa makhluk ciptaan-Nya.
Kasih adalah salah satu sifat dasar Allah, tetapi apabila kasih itu dihubungkan dengan orang-orang berdosa maka menjadi kasih karunia. Kata ”kasih karunia” diterjemahkan dari kata Yunani ”Charis” yang dapat diartikan sebagai: kasih karunia, anugerah, pemberian, rahmat atau belas kasihan. Dalam konteks soteriologis maka kasih karunia berarti keselamatan yang sama sekali terpisah dari jasa-jasa kita atau oleh karena perbuatan baik kita. Keselamatan bukan terjadi sebagai “hasil pekerjaan” kita karena pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan di atas kayu salib. Ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Allah bagi kita dan Yesus telah melakukannya dengan kasih karunia-Nya.
Coba sejenak pertanyaan di bawah ini kita cermati. Dengan apakah seseorang bisa mendapatkan sesuatu? Saya melihat ada tiga cara yang dapat ditempuh. Pertama, dengan cara halal atau tidak berdosa. Misal, saya berkeinginan untuk memiliki sebuah televisi maka saya bekerja di sebuah perusahaan dan honor yang saya peroleh saya gunakan untuk membeli sebuah televisi. Ini namanya memperoleh sesuatu dengan cara halal. Cara yang kedua, dengan cara haram atau dengan cara berdosa. Seperti halnya pencuri yang menyusup ke dalam rumah untuk mengambil sebuah televisi. Inilah yang dinamakan memperoleh sesuatu dengan cara tidak halal. Cara yang ketiga adalah dengan cara diberi secara cuma-cuma atau kasih karunia. Saya mendatangi anda lalu memberikan secara cuma-cuma sebuah televisi sehingga anda memiliki sebuah televisi. Karena berupa pemberian, maka anda tidak perlu untuk membayarnya, tetapi anda bisa saja menolak atau tidak sudi untuk menerimanya.
Bila kita hubungkan dengan keselamatan kekal, cara manakah yang paling tepat untuk memperoleh hidup kekal? Mungkinkah dan dapatkah manusia manusia berdosa meraih hidup kekal dengan cara halal? Saya jamin tidak, karena manusia punya kecendrungan untuk berdosa, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dosa yang menyebabkan manusia tersesat (Mat. 18:11 ; Luk. 15:4,8,24). Jika tidak mendapat pengampunan, maka dosa menyebabkan manusia menjadi binasa (Rm. 3:23; 6:23; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 1:9).
Bila kita mengacu kepada cara yang kedua yaitu dengan cara haram maka sudah pasti manusia tidak akan mungkin dan tidak akan dapat beroleh hidup yang kekal. Sesuatu yang haram dan berdosa tidak akan pernah membuat manusia beroleh hidup yang kekal. Karena itu, cara yang paling tepat dan logis untuk beroleh hidup yang kekal hanyalah dengan cara diberi secara cuma-cuma oleh karena kasih karunia Allah.
Kata Yunani yang seharusnya diterjemahkan “dengan cuma-cuma” dalam Yohanes 15:25 oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan menjadi “tanpa alasan”. Terjemahan ini sangatlah tepat karena kita dibenarkan tanpa alasan! Tidak ada satupun dalam diri manusia yang membuat ia pantas atau layak menerima keselamatan dari Allah. Semua ini karena kasih karunia, diberi secara cuma-cuma.
Keselamatan kekal adalah pemberian bukan pahala. Oleh karena itu janganlah kita sampai menyia-nyiakannya (band. Ibr. 2:3). Secara eksplisit Alkitab memberi penegasan bahwa yang terpenting bukanlah sekedar memiliki keselamatan, melainkan juga mengerjakan keselamatan dengan sikap takut dan gentar (Flp. 2:12).  Dan Allah mengendaki agar orang yang telah diselamatkan itu hidup di dalamnya (band Ef. 2:10; Gal. 5:13).
            Mari kita maknai lebih dalam lagi. Mengapa kasih karunia Allah bersifat penting? Apa yang menjadi dasar sehingga kasih karunia itu dinyatakan kepada manusia berdosa? Ada tiga hal secara mendasar bila saya melihatnya. Pertama, karena kasih karunia Allah maka manusia dapat terbebas dari belenggu dosa dan diperdamaikan dengan Allah. Standar Allah bukanlah standar moral seperti yang ditekankan oleh Hukum Taurat melainkan standar kasih.
Hukum Taurat diberikan bukan untuk menyelamatkan manusia, melainkan untuk menunjukkan kepada manusia bahwa ia perlu diselamatkan (Rm. 4:14-15). Manusia berdosa diselamatkan bukan karena ia terlepas dari kesalahan hukum Taurat karena tidak seorangpun yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat (Gal. 5:4). HukumTaurat tidak menyelamatkan manusia, tetapi hanya membuat manusia mengenal dosa (band. Rm. 3:20). Pengenalan terhadap hakekat dosa akan menyadarkan manusia betapa dahsyatnya akibat dari dosa tersebut.
Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Yesus Kristus datang seperti yang telah dijanjikan-Nya itu supaya kita dibenarkan oleh iman (Gal. 3:19-24). Jadi pembenaran orang berdosa bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena kasih karunia (Ef. 2:8-9) oleh karena ia beriman kepada Yesus Kristus sebagai juru selamatnya secara pribadi (Rm. 1:17-18; Gal. 3:11). Intinya, hukum Taurat itu menunjukkan bahwa manusia butuh Juru selamat. Dan Yesus Kristus adalah kegenapan dari Hukum Taurat itu (Rm. 10:4; 8:1-4; 2 Kor. 5:21).
Dosa tidak akan pernah dapat diselesaikan oleh manusia secara pribadi. Malah bila dibiarkan maka manusia makin berdosa dan bertambah jahat. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah sendiri yang berinisiatif untuk menebus manusia dari keberdosaanya (lihat Kej 3:15 band. Yes 7:14; 9:5; 52:13-53:12; Mi. 5:1; Mat. 1;23; Yoh. 3:16; Rm. 6:23). Karena Allah mengetahui secara pasti bahwa manusia tidak dapat menyelesaikan persoalan dosa, maka Ia menyatakan kasih karunia-Nya. Tanpa kasih karunia maka status saya dan saudara tetap sebagai tawanan atau budak dosa dan akan menjadi korban penghukuman akibat dari perbuatan dosa.
            Kedua, Karena kasih karunia maka Allah tidak menghendaki siapapun untuk binasa. Yang dikehendaki oleh Allah adalah supaya semua orang diselamatkan (lihat 1 Tim. 2:4) dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16; 2 Ptr. 3:15). Kematian Kristus di kayu salib adalah tindakan Allah untuk merealisasikan keselamatan bagi manusia berdosa. Tetapi realisasi ini butuh pengakuan dan respon dari manusia berdosa dalam menanggapi keselamatan yang ditawarkan kepadanya. Manusia berdosa hanya dituntut untuk mengakui dengan mulutnya dan percaya dengan segenap hati kepada Yesus Kristus maka ia diselamatkan (band. Rm. 10:9-10). Bila disimpulkan maka kematian Kristus di kayu salib ditawarkan untuk semua manusia, tetapi berlaku hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya (band. Yoh. 3:16; 14:6; Kis. 4:12). Bukan universalisme, melainkan universalitas.
Perbuatan baik atau kesalehan hidup tidak akan pernah dapat membuat manusia berdosa beroleh keselamatan kekal. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik karena perbuatan baik yang kita perbuat tidak akan pernah mampu untuk membayar atau menebus dosa yang telah kita perbuat. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan, bukan sarana keselamatan (baca Ef. 2:8-10). Karena itu orang yang sudah diselamatkan layak untuk berbuahkan kebaikan dan memang sepatutnya adalah demikian.
Mungkin anda berkata kalau karena kasih karunia kita diselamatkan, apa pentingnya lagi kita berbuat baik? Lalu, untuk apa kita mencari pahala atau mengejar mahkota? Alkitab menegaskan bahwa di surga nanti kita akan berhadapan dengan Yesus yang duduk di takhta-Nya. Di hadapan takhta-Nya itulah kita akan melemparkan pahala atau mahkota yang kita peroleh saat hidup di dunia ini. Kita melakukannya sebagai suatu pujian dan pengaguman kepada Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita (lihat Why. 4:10). Kalau kita tidak memiliki mahkota, apa yang akan kita lemparkan nanti di surga saat menghadap takhta-Nya?
Ketiga, Allah ingin menyatakan kasih-Nya yang besar kepada manusia berdosa (Yoh. 3:16). Karena kasih maka Allah mengampuni orang-orang berdosa, tetapi keadilan Allah menuntut konsistensi Allah untuk menyatakan keadilan-Nya. Allah tidak dapat melanggar ketetapan-Nya sendiri atau mengingkari sifat-Nya sama sekali. Secara adil maka Allah akan menghukum manusia karena dosa yang telah diperbuatnya (lihat Kej. 3:16-19). Dan maut adalah upah atas dosa yang telah diperbuat oleh manusia (Rm. 6:23).
Tetapi jangan pernah diabaikan bahwa Allah yang maha adil itu (Mzm. 7:12; Yes. 30:8; Yoh. 17:25; I Yoh. 2:1), juga adalah Allah yang maha kasih (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 4:8). Kasih dan keadilan Allah berjalan bersamaan, tanpa mengurangi dan kontradiksi satu sama lain. Seperti keadilan yang telah dinyatakan-Nya, maka secara otomatis kasih Allah juga harus dinyatakan atas manusia berdosa. Untuk mewujudkan kasih-Nya maka Allah sendiri yang melakukan prakarsa untuk menyelamatkan manusia berdosa. Tidaklah mungkin Allah membiarkan manusia sementara Dia sendiri mengetahui secara pasti bahwa manusia tidak akan pernah mampu untuk menyelamatkan dirinya dari belenggu dosa. Adalah suatu kesombongan bila manusia beranggapan dapat menyelesaikan persoalan dosa pribadi dengan kesalehan atau melalui perbuatan baiknya. 
Alkitab tegas mengatakan bahwa kematian Kristus di kayu salib membenarkan manusia berdosa, ”Oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Rm. 3:24 band. Rm. 6:23; Ef. 2:8-9). Kasih Allah itulah yang menutupi segala dosa (band. 1 Kor. 13:7). Kasih Allah adalah dasar dari pembenaran terhadap orang berdosa. Nah, bagaimana Allah yang kudus itu dapat membenarkan orang-orang berdosa? Lalu apa langkah yang ditempuh oleh Allah terkait dengan kedua sifat-Nya itu, yakni: kasih terhadap orang berdosa dan keadilan ditegakkan bagi orang berdosa? Bagaimana Allah dapat bersifat adil, tetapi juga menyelamatkan orang berdosa sebagai wujud dari kasih-Nya? Jawabannya ada dalam diri Yesus Kristus. Salib adalah bukti bahwa Yesus menanggung murka Allah di Golgota untuk menebus manusia berdosa sekaligus menyatakan kasih-Nya. Dan Yesus telah memenuhi fakta-fakta hukum Allah secara sempurna dan juga sempurna dalam mengungkapkan kasih Allah bagi umat manusia ciptaan-Nya.
            Dua kisah di bawah ini cukup representatif untuk menolong kita dalam memahami perihal kasih karunia Allah. Dr. G. Campbell Morgan sedang berusaha menjelaskan “Keselamatan yang cuma-cuma” kepada seorang penggali tambang batu bara, tetapi penggali tambang itu tetap saja tidak dapat memahaminya. Sambil tetap ngotot mempertahankan pendapatnya ia tetap mendebat Dr. Morgan dengan berkata, “Saya harus membayar untuk memperolehnya.
            Berkat hikmat dari Allah lalu Dr. Morgan melontar pertanyaan, “Bagaimana anda dapat menuruni tambang tadi pagi?” “Mudah sekali,” jawab orang itu. “Saya hanya masuk ke dalam lift, lalu turun.” Kemudian Dr. Morgan berkata, “Sangat mudah, bukan? Anda tidak harus membayar sesuatu untuk itu.” Penambang itu tertawa. “Tidak, saya tidak usah membayar apa-apa, tetapi perusahaan tentunya mengeluarkan banyak biaya untuk mengadakan lift di penambangan ini.” Akhirnya penggali tambang itu dapat melihat kebenaran Allah sambil berkata: “Saya tidak membayar sesuatu apa pun untuk diselamatkan, tetapi Allah membayarnya dengan hidup Anak-Nya.
            Pada abad ke-20, Kaisar Tsar Rusia pernah digoncang kepemimpinannya oleh kelompok revolusioner yang dipimpin oleh seorang pejuang bernama Shamila. Shamila dan kelompoknya hidup mengembara dan berpindah pindah untuk maksud menggulingkan Tsar Rusia.
            Dalam suatu peristiwa seorang bawahan Shamila datang ke tendanya untuk melaporkan bahwa persedian makanan mereka telah dicuri. Shamila kesal bukan kepalang karena persediaan makanan sangat terbatas. Segera ia mengumpulkan semua anggotanya dan menetapkan sebuah keputusan yang bersifat yuridis bila tertangkap basah mencuri makanan maka sang pencuri akan menerima hukuman cambuk dan semua anggota harus menyaksikan agar mereka tidak ikut-ikutan mencuri. Tidak lama setelah Shamila mengeluarkan ketetapan, pengawalnya datang menghadap kembali untuk memberitahukan bahwa makanan kembali dicuri, tetapi pencurinya sudah tertangkap.
Tragisnya yang tertangkap sebagai pencuri itu adalah ibu kandung Shamila sendiri. Selanjutnya, apa yang terjadi? Apakah Shamila akan membebaskan ibunya karena memang ia sangat mengasihi ibunya itu? Atau sebaliknya membiarkan ibunya dicambuki di depan mata kepalanya sendiri. Tentulah Shamila mengalami dilema dan konflik batin. Menurut Anda apa yang akan dilakukannya? Bila Shamila membebaskan ibunya sebagai bukti kasih kepada orang yang sangat dikasihinya itu maka pengikutnya akan menganggap ia sebagai pemimpin yang tidak adil. Atau sebaliknya, bila ia mencambuki ibunya maka orang-orang akan mengatakan bahwa ia tidak mengasihi ibunya. Seluruh pengikutnya menantikan bagaimana tindakan Shamila dalam mengatasi problema yang terjadi. Di depan banyak orang Shamila melepaskan jubahnya dan memerintahkan agar pengawal mencambuki dirinya. Tindakan seperti ini dilakukan oleh Shamila karena didasari oleh kasihnya kepada ibunya, tetapi juga sekaligus menyatakan keadilan yang harus ditegakkan.
            Hal seperti itulah yang dilakukan oleh Allah kepada manusia berdosa ciptaan-Nya. Allah sendiri yang turun tangan untuk mengatasi problema dosa. Yesus rela memberi diri-Nya untuk menderita di kayu salib agar keadilan Allah atas dosa dapat ditegakkan dan kasih Allah atas manusia berdosa juga sekaligus dinyatakan sehingga umat yang dikasihi-Nya beroleh hidup yang kekal. Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8, 16). Ia penuh anugerah dan mengetahui secara pasti bahwa manusia membutuhkan kasih karunia karena tak satupun manusia mampu melepaskan diri dari jerat dan hukuman dosa. Pertanyaannya, maukah kita menerima kasih karunia itu dan hidup di dalamnya? (RRS)

Rabu, 15 Agustus 2012

Pdt. Rudy R. Sirait - Persembahan Tubuh



Persembahan Tubuh


Syalom pak Pdt. Rudy Sirait. Mohon dijelaskan surat Roma 12:1, perihal ungkapan "persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Dalam bahasa Yunani kata kudus berasal dari kata “hagios.” Gramcord: kata sifat, feminim, single, accusative, no degree. Jenis “feminim” di sini apakah ada kaitannya dengan kekudusan, ya? (Elyas Abraham Tobing, Surabaya).


Syalom pak Elyas... Saya bangga karena anda sangat berantusias untuk meneliti kedalaman kitab suci. Semoga catatan saya ini dapat membantu anda untuk memahami perihal dari apa yang anda pertanyakan. I hope so.
Inti dari ayat ini adalah persembahan sempurna yang dituntut oleh Allah atas setiap umat Kristiani, yaitu: “persembahan tubuh yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (lihat Rm. 12:1). Persembahan seperti inilah yang dinyatakan sebagai ibadah yang sejati. Tampaknya anda mulai tertarik untuk memahami makna perihal ibadah yang sejati. Baiklah, secara runtut kita akan coba untuk membahasnya.
Kata ”sejati” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata sifat Yunani λογικην (logiken) yang secara literal dapat diartikan: logis, rasional atau masuk akal. Itu berarti, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah adalah tindakan atau kegiatan yang masuk akal, logis atau rasional. Dalam sudut pandang duniawi, rasanya tidak masuk akal bila kita dapat mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang kudus. Tetapi dalam sudut pandang surgawi, itu merupakan hal yang logis untuk dipersembahkan oleh umat percaya kepada Allah. 
Tuhan tidak lagi menuntut persembahan-persembahan yang mati, seperti dalam Perjanjian Lama. Yesus Kristus telah mempersembahkan tubuh-Nya untuk mengapus yang pertama (persembahan yang mati) supaya yang kedua (persembahan tubuh yang hidup) ditegakkan (band. Ibr. 10:1-10). Tuhan tidak menuntut kita untuk mati bagi Dia, yang dikehendaki-Nya ialah agar kita hidup bagi-Nya. Tuhan juga tidak memerintahkan kita untuk memusuhi dunia, sebab Dia sendiri sangat mengasihi dunia ini (band. Yoh. 3:16). Yang dikehendaki-Nya adalah agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini (lihat Rm. 12:2).
Mari kita cermati makna gramatikalnya. Kata “mempersembahkan” dalam Roma 12:1 berasal dari kata Yunani, παραστησαι (parastesai). Jenisnya berupa kata kerja Infinitif dengan kala (tense) Aoris Aktif. Dalam penggunaannya maka aoris aktif untuk menekankan keberlangsungan tindakan secara terus menerus. Sementara Infinitif adalah kata kerja yang sekaligus juga kata benda (Nomina-Verba). Sebagai kata kerja ia memiliki diatesis dan kala. Sedangkan sebagai kata benda, ia dapat berfungsi serta memiliki karakteristik sebagaimana layaknya kata benda. Di satu pihak, ia memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata kerja, di pihak lain ia memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata benda. Dalam hal ini, Infinitif digunakan untuk menyatakan tujuan atau sasaran tindakan dari kata kerja yang dihubungkan dengannya.
Karena itulah, maka kata “mempersembahkan” dalam ayat ini harus diartikan “mempersembahkan sekali untuk selamanya.” Tuntutan mempersembahkan tubuh kepada Allah dalam ayat ini tidak ubahnya seperti pengantin pria dan wanita yang menyerahkan tubuh mereka sekali untuk selama-lamanya hanya kepada pasangan hidup mereka saja. Penyerahan tubuh kepada yang lain atau yang bukan pasangan hidupnya adalah perbuatan zinah, kotor dan berdosa.
Kata ”kudus” dalam ayat ini bukan berupa kata benda, melainkan kata sifat. Kata sifat berfungsi untuk menyatakan sifat atau keadaan. Diterjemahkan dari kata Yunani αγιαν (hagion) yang secara hurufiah berarti: “dipisahkan” atau “dikhususkan.” Itu berarti, mempersembahkan tubuh kepada Allah berupa tindakan atau perbuatan untuk “memisahkan” atau “mengkhususkan” tubuh ini hanya untuk Allah semata. Dalam posisinya sebagai ”predikatif” maka kata sifat membuat suatu pernyataan tentang kata benda. Itu berarti, kata sifat “yang kudus” di sini mendapat tekanan sedikit lebih besar dari pada kata benda “sebagai persembahan”.
Setiap kata benda mempunyai jenis. Secara mendasar ada tiga jenisnya, yaitu: maskulin, feminim dan netral. Jenis dari kata benda tidak ditetapkan berdasarkan jenis kelamin, melainkan berkaitan dengan kategori gramatika. Kata “persembahan yang kudus”  dengan jenis feminim berhubungan erat dengan kata “kepada Allah” yang jenisnya adalah maskulin. Hal ini jelas mengindikasikan perihal Yesus yang adalah mempelai pria dan gereja-Nya yang adalah mempelai wanita. Sebagai mempelai pria, Yesus sudah terlebih dahulu mempersembahkan tubuh-Nya bagi gereja, sang mempelai-Nya. Karena itu sangatlah beralasan, logis dan masuk akal bila Ia pun menuntut mempelai wanita untuk mempersembahkan tubuhnya hanya semata bagi Dia. Dan persembahan inilah yang menjadi dasar mutlak untuk hubungan di antara kedua mempelai. 
Tubuh kita adalah sarana korban persembahan bagi Allah. Sebelum kita percaya kepada Yesus, tubuh ini kerap kali kita gunakan untuk kesenangan duniawi dan ragam kejahatan. Tetapi setelah kita beriman kepada Kristus maka tubuh ini menjadi bait Allah (1 Kor. 3:16; 6:19-20) dan Roh Allah berdiam di dalamnya (Rm. 8:9). Karena itu kita harus mempergunakan tubuh ini untuk kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus (Flp. 1:20-21). Bagaimana hal itu bisa terwujud? Aplikasi praktisnya adalah dengan cara “hidup oleh Roh” dan “memberi diri dipimpin oleh Roh” maka kamu “tidak akan menuruti keinginan daging” dan tidak hidup di bawah hukum Taurat” (baca Gal. 5:16-18).
Bila kita hidup oleh Roh maka kita akan disempurnakan oleh Roh, sehingga kita mampu untuk hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan berarti penyangkalan terhadap keinginan daging. Keinginan daging bertentangan dengan keinginan Roh (Gal. 5:17). Keinginan Roh dapat terwujud bila kita hidup oleh Roh. Kita tidak akan pernah dapat mengalahkan keinginan daging tanpa pimpinan Roh (Gal. 5:18). Jadi, metode atau kiat praktis dan logis untuk mengalahkan keinginan daging bukanlah menggunakan kehendak kita dalam melawan kedagingan, melainkan menyerahkan kehendak kita kepada Roh Kudus.
Semoga ilustrasi di bawah ini dapat memberi inspirasi bagi kita untuk memahami perihal hidup oleh Roh. Dua ekor kuda, yaitu: Kuda Hitam dan Kuda Putih memiliki postur tubuh dan kecepatan lari yang sama. Tetapi setiap kali dipertandingkan sang Kuda Hitam selalu memenangkan perlombaan. Suatu hari sang pemilik kedua ekor kuda tersebut menginginkan agar Kuda Putih yang menang saat dipertandingkan. Bagaimana caranya? Tiga bulan sebelum dipertandingkan, maka sang pemilik mengurangi porsi makan dan latihan terhadap Kuda Hitam, tetapi sebaliknya ia menambahkan porsi makan dan latihan kepada Kuda Putih. Akibatnya Kuda Hitam menjadi lemah dan lamban, berbeda halnya dengan Kuda Putih yang makin kuat dan bertambah kencang larinya. Ternyata cara ini sungguh mujarab karena Kuda Putih akhirnya memenangkan pertandingan saat diperlombakan. Kehidupan kita pun tidak ubahnya seperti itu, bila kita senantiasa hidup oleh Roh dan memberi diri dipimpin oleh Roh maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Bila kita senantiasa mengkonsumsikan hal-hal yang rohani maka lambat laun keinginan daging itu kian menipis dan kuasanya kian melemah.
Coba cermati pernyataan “tidak akan” dalam Galatia 5:16 ini, apa maksudnya? Kata “tidak akan” tentu berbeda artinya dengan kata “tidak lagi”. Artinya orang yang dipimpin oleh Roh bisa saja berdosa karena kelemahan dan kekhilafannya, tetapi ia tidak akan pernah menikmati atau sudi diperhamba oleh dosa. Ia akan bangkit dari kejatuhannya dan berusaha untuk menolak tawaran dosa dengan kekuatan yang didapatnya dari Tuhan.

Masih dalam suasana memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, ijinkan saya menyapa anda sekalian dengan pekik, "Merdeka!" Bila anda menyetujuinya, balaslah dengan mengatakan, "Merdeka" secara lantang. Sambil mengatakannya, ingatkan juga diri anda bahwa status anda adalah orang yang sudah dimerdekakan. Merdeka!!! (RRS)