Syalom pak Pdt. Rudy
Sirait. Mohon dijelaskan surat Roma 12:1, perihal ungkapan "persembahan
yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Dalam bahasa Yunani
kata kudus berasal dari kata “hagios.” Gramcord: kata sifat, feminim, single,
accusative, no degree. Jenis “feminim” di sini apakah ada kaitannya dengan kekudusan,
ya?(Elyas Abraham Tobing, Surabaya).
Syalom pak Elyas... Saya bangga karena anda
sangat berantusias untuk meneliti kedalaman kitab suci. Semoga catatan saya ini dapat membantu anda untuk memahami perihal dari apa yang anda pertanyakan. I hope so.
Inti dari ayat ini
adalah persembahan sempurna yang dituntut oleh Allah atas setiap umat
Kristiani, yaitu: “persembahan tubuh yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”
(lihat Rm. 12:1). Persembahan seperti inilah yang dinyatakan sebagai ibadah yang
sejati. Tampaknya anda mulai tertarik untuk memahami makna perihal ibadah yang sejati. Baiklah, secara runtut kita akan coba untuk membahasnya.
Kata ”sejati” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata sifat Yunani λογικην(logiken) yang secara
literal dapat diartikan: logis, rasional atau masuk akal. Itu berarti,
mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah adalah tindakan atau kegiatan yang masuk akal, logis atau
rasional. Dalam sudut pandang duniawi,
rasanya tidak masuk akal bila kita dapat
mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang kudus. Tetapi dalam
sudut
pandang surgawi, itu merupakan hal yang logis untuk dipersembahkan oleh
umat percaya kepada Allah.
Tuhan tidak lagi menuntut
persembahan-persembahan yang mati, seperti dalam Perjanjian Lama. Yesus Kristus
telah mempersembahkan tubuh-Nya untuk mengapus yang pertama (persembahan yang
mati) supaya yang kedua (persembahan tubuh yang hidup) ditegakkan (band. Ibr. 10:1-10).
Tuhan tidak menuntut kita untuk mati
bagi Dia, yang dikehendaki-Nya ialah agar kita hidup
bagi-Nya. Tuhan juga tidak memerintahkan kita untuk memusuhi dunia, sebab Dia sendiri sangat mengasihi dunia ini (band. Yoh.
3:16). Yang dikehendaki-Nya adalah agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini (lihat Rm. 12:2).
Mari kita cermati makna gramatikalnya. Kata
“mempersembahkan” dalam Roma 12:1 berasal dari kata Yunani, παραστησαι
(parastesai). Jenisnya berupa kata kerja Infinitif dengan
kala (tense) Aoris Aktif. Dalam
penggunaannya maka aoris aktif untuk menekankan keberlangsungan tindakan secara
terus menerus. Sementara Infinitif
adalah kata kerja yang sekaligus juga kata benda (Nomina-Verba). Sebagai kata
kerja ia memiliki diatesis dan kala. Sedangkan sebagai kata benda, ia dapat berfungsi
serta memiliki karakteristik sebagaimana layaknya kata benda. Di satu pihak, ia
memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata kerja, di pihak lain ia
memiliki ciri-ciri dan fungsi yang sama dengan kata benda. Dalam hal ini,
Infinitif digunakan untuk menyatakan tujuan atau sasaran tindakan dari kata
kerja yang dihubungkan dengannya.
Karena itulah, maka kata “mempersembahkan”
dalam ayat ini harus diartikan “mempersembahkan sekali untuk selamanya.”
Tuntutan mempersembahkan tubuh kepada Allah dalam ayat ini tidak ubahnya
seperti pengantin pria dan wanita yang menyerahkan tubuh mereka sekali untuk
selama-lamanya hanya kepada pasangan hidup mereka saja. Penyerahan tubuh kepada yang
lain atau yang bukan pasangan hidupnya adalah perbuatan zinah, kotor dan
berdosa.
Kata ”kudus” dalam ayat ini bukan berupa kata
benda, melainkan kata sifat. Kata sifat berfungsi untuk menyatakan sifat atau
keadaan. Diterjemahkan dari kata Yunani αγιαν(hagion) yang secara
hurufiah berarti: “dipisahkan” atau “dikhususkan.” Itu berarti, mempersembahkan tubuh kepada
Allah berupa tindakan atau perbuatan untuk “memisahkan” atau “mengkhususkan” tubuh ini hanya untuk Allah
semata. Dalam posisinya sebagai
”predikatif” maka kata sifat membuat suatu pernyataan tentang kata
benda. Itu berarti, kata sifat “yang kudus” di sini mendapat tekanan sedikit
lebih besar dari pada kata benda “sebagai persembahan”.
Setiap
kata benda mempunyai jenis. Secara mendasar ada tiga jenisnya, yaitu: maskulin,
feminim dan netral. Jenis dari kata benda tidak ditetapkan berdasarkan jenis
kelamin, melainkan berkaitan dengan kategori
gramatika. Kata “persembahan yang kudus”
dengan jenis feminim
berhubungan erat dengan kata “kepada Allah” yang jenisnya adalah maskulin. Hal ini jelas mengindikasikan
perihal Yesus yang adalah mempelai pria dan gereja-Nya yang adalah mempelai
wanita. Sebagai mempelai pria, Yesus sudah terlebih dahulu mempersembahkan
tubuh-Nya bagi gereja, sang mempelai-Nya. Karena itu sangatlah beralasan, logis dan masuk akal bila Ia pun menuntut mempelai wanita untuk mempersembahkan tubuhnya hanya semata bagi Dia. Dan persembahan inilah yang menjadi dasar mutlak
untuk hubungan di antara kedua mempelai.
Tubuh kita adalah sarana korban persembahan
bagi Allah. Sebelum kita percaya kepada Yesus, tubuh ini kerap kali kita
gunakan untuk kesenangan duniawi dan ragam kejahatan. Tetapi setelah kita
beriman kepada Kristus maka tubuh ini menjadi bait Allah (1 Kor. 3:16; 6:19-20)
dan Roh Allah berdiam di dalamnya (Rm. 8:9). Karena itu kita harus
mempergunakan tubuh ini untuk kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus (Flp.
1:20-21). Bagaimana hal itu bisa terwujud? Aplikasi praktisnya adalah dengan cara
“hidup oleh Roh” dan “memberi diri dipimpin oleh Roh” maka kamu “tidak akan
menuruti keinginan daging” dan tidak hidup di bawah hukum Taurat” (baca Gal.
5:16-18).
Bila kita hidup oleh Roh maka kita akan disempurnakan oleh Roh,
sehingga kita mampu untuk hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan berarti
penyangkalan terhadap keinginan daging. Keinginan daging bertentangan dengan
keinginan Roh (Gal. 5:17). Keinginan Roh dapat terwujud bila kita hidup oleh
Roh. Kita tidak akan pernah dapat mengalahkan keinginan daging tanpa pimpinan
Roh (Gal. 5:18). Jadi, metode atau kiat praktis dan logis untuk mengalahkan keinginan daging bukanlah menggunakan kehendak kita dalam melawan kedagingan,
melainkan menyerahkan kehendak kita kepada Roh Kudus.
Semoga ilustrasi di bawah ini dapat memberi inspirasi bagi kita untuk
memahami perihal hidup oleh Roh. Dua ekor kuda, yaitu: Kuda Hitam dan Kuda
Putih memiliki postur tubuh dan kecepatan lari yang sama. Tetapi setiap
kali dipertandingkan sang Kuda Hitam selalu memenangkan perlombaan. Suatu hari sang
pemilik kedua ekor kuda tersebut menginginkan agar Kuda Putih yang menang saat
dipertandingkan. Bagaimana caranya? Tiga bulan sebelum dipertandingkan, maka
sang pemilik mengurangi porsi makan dan latihan terhadap Kuda Hitam, tetapi sebaliknya
ia menambahkan porsi makan dan latihan kepada Kuda Putih. Akibatnya Kuda Hitam menjadi lemah dan lamban, berbeda halnya dengan Kuda
Putih yang makin kuat dan bertambah kencang larinya. Ternyata cara ini sungguh mujarab karena Kuda Putih akhirnya memenangkan
pertandingan saat diperlombakan. Kehidupan kitapun tidak ubahnya seperti itu, bila kita senantiasa hidup oleh Roh dan memberi diri dipimpin oleh Roh
maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Bila kita senantiasa mengkonsumsikan
hal-hal yang rohani maka lambat laun keinginan daging itu kian menipis dan kuasanya
kian melemah.
Coba cermati pernyataan “tidak akan” dalam Galatia 5:16 ini, apa maksudnya? Kata “tidak akan” tentu berbeda artinya dengan kata “tidak lagi”.
Artinya orang yang dipimpin oleh Roh bisa saja berdosa karena kelemahan dan kekhilafannya, tetapi ia tidak akan pernah menikmati atau sudi
diperhamba oleh dosa. Ia akan bangkit dari kejatuhannya dan berusaha untuk
menolak tawaran dosa dengan kekuatan yang didapatnya dari Tuhan.
Masih dalam suasana memperingati hari
kemerdekaan Republik Indonesia, ijinkan saya menyapa anda sekalian dengan
pekik, "Merdeka!" Bila anda menyetujuinya, balaslah dengan
mengatakan, "Merdeka" secara lantang. Sambil mengatakannya, ingatkan
juga diri anda bahwa status anda adalah orang yang sudah dimerdekakan. Merdeka!!! (RRS)
Group
band legendaris The Rolling Stone merayakan ulang tahun emas ke-50 pada tanggal
12 Juli lalu. Lima puluh tahun lalu mereka tampil pertama kali di The Marquee Jazz
Club di jalan Oxford Street, London. Si bibir dower Mick Jagger sang vokalis,
sangat bersyukur atas anugerah Tuhan karena tetap eksis hingga sampai saat ini.
Mereka bahkan berencana mengadakan tour keliling dunia untuk menghibur para penggemarnya
walaupun usia mereka sudah mencapai 70 tahun .
Kehidupan
personil The Rolling Stones memang fenomenal. Mereka pernah terlibat narkotik, konflik
dengan sesama anggota grup, bahkan nyaris dibunuh namun hal itu tidak menumbangkan
karier mereka dalam bermusik. Tanggal 21 Februari 2012 lalu, Presiden Amerika
Barack Obama mengundang Mick Jagger untuk bernyanyi di East Room Gedung Putih,
Washington DC dalam acara “Black History Month,” untuk menghormati orang-orang
penting kulit hitam yang dulu disiksa dan sebenarnya memberikan pengaruh yang
baik bagi negara Amerika. Bahkan dipenghujung konser, Obama menyanyikan lagu
“Sweet Home Chicago” bersama Mick Jagger yang tak lain adalah sang idolanya.
Mick
Jagger dan groupnya pernah dikecam oleh umat Kristiani karena merilis lagu yang
berjudul “Sympathy for The Devil.” Lagu ini sarat dengan pemujaan setan dan pelecehan
terhadap Tuhan Yesus Kristus. Tetapi, memasuki usia senja Mick Jagger banyak
mengeluarkan hits yang bertema spiritiual, seperti: “See You In Paradise,” “God
Give Me Everything” atau “Vision of Paradise” dan lainnya. Dalam suatu wawancara,
Jagger berkomentar, “I don’t want to talk about Jesus, I just want to see His
face.” Di usia senja mereka terus berkarya sambil mensyukuri apa yang telah
Allah perbuat dalam hidup mereka. Still Alive and kicking. Never ending rock’n
roll.
Bagaimana
dengan ajaran Alkitab tentang masa tua? Di Mazmur 92:13-16 tertulis, “Orang
benar akan bertunas seperti pohon korma... Pada masa tua pun mereka masih
berbuah...” Tampaknya pemazmur sangat mengenal keberadaan pohon korma. Pohon
korma adalah pohon yang tinggi, lurus dan selalu menghijau. Umurnya bisa
mencapai puluhan tahun. Dan semakin lanjut usianya, maka pohon korma akan
menghasilkan buah-buah yang semakin berkualitas.
Di
bait Allah, pemazmur sering menceritakan tentang keberadaan pohon korma melalui
mazmur yang dinyanyikannya. Sebagian dari gubahan liriknya berbunyi demikian,
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma...” (Mzm. 92:13), “Pada masa tua
pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (Mzm. 92:15). Dengan memakai
gambaran tentang pohon, pemazmur hendak mengingatkan bahwa di masa tuapun orang
benar akan akan sanggup menjulang tinggi dalam berkarya dan menghasilkan
buah-buah yang bermutu. Masa tua bukan untuk menganggur atau berpangku tangan,
melainkan ada fungsinya sehingga menjadi kesaksian yang berfaedah bagi anak
cucunya.
Pemazmur
juga menggambarkan hidup orang benar bukan seperti pohon yang kering, kerdil
dan mudah patah ditiup oleh angin, melainkan “seperti pohon aras di Libanon
yang akan tumbuh subur” (Mzm. 92:13). Tinggi pohon aras bisa mencapai 40 meter
dengan batang yang berdiameter 2,5 meter. Selain tinggi besar, pohon aras juga
memiliki keistimewaan tersendiri. Bila pohon aras ditiup angin yang
sepoi-sepoi, maka dia akan lenggak-lenggok dan akan mengeluarkan bunyi seperti
orang bersiul. Semakin keras tiupan angin maka semakin keras pula bunyi
dikeluarkan, tetapi tidak satupun dahannya yang patah karena tertiup oleh angin.
Pohon aras biasanya tumbuh di puncak gunung yang sangat dingin.
Meskipun sangat dingin, namun pohon ini dapat bertahan hidup. Dalam segala
musim, daunnya tetap hijau dan tumbuh subur. Seolah-olah temperatur dingin
tidak berpengaruh sama sekali terhadap pertumbuhannya. Pohon aras adalah pohon
yang sangat kuat dan tahan uji terhadap perubahan cuaca dan usia. Semakin tua, kayunya semakin kuat
dan menjulang tinggi.
Apakah
yang menjadi penyebabnya? Lirik berikutnya berbunyi demikian, karena: “mereka
yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah” (Mzm. 92:14).
Akarnya semakin merambah dan mendalam di dalam Tuhan sehingga ia tetap kuat dan
memberi hidup yang dampak. Karena itulah, banyak orang datang untuk berteduh
sambil meminta nasehat atau mendengar kesaksian hidupnya. Keberhasilan yang
diraihnya di masa tua, bukan untuk memberitahukan kepada halayak ramai bahwa ia
sudah memiliki asam garam pengalaman hidup, melainkan semata “untuk
memberitahukan bahwa Tuhan itu benar, bahwa Ia gunung batuku” (Mzm. 92:16).
Usia
tua bukan menjadi faktor penghalang untuk berkarya. Di dunia politik, Golda Meir menjadi Perdana Menteri Israel pada usia 71 tahun. Di dunia seni George Bernad Shaw berusia 92 tahun ketika mengubah sandiwara
terakhirnya.
Di dunia bisnis, Ray Kroc berusia setengah abad
sebagai penjual mesin susu ketika dia memulai Mc Donald. Kini perusahaannya ada di seluruh pelosok jagad. Di dunia pendidikan
teologia, Pdt. Dr. Chris Marantika tetap mengajar dan berkotbah walaupun usia
sudah semakin senja. Kalau tidak salah
Titik Puspa sempat
putus asa ketika masih remaja karena menganggap dirinya jelek.Jikalau ada satu penghalang jelas bukan usia, tetapi orangnya sendiri(RRS)
(Refleksi Perumpamaan Tentang
Lalang Di antara Gandum)
Yesus sangat perhatian dan piawai dengan
dunia flora. Banyak perumpamaan yang dipakai-Nya berhubungan dengan tanaman.
Salah satu bagian dari kitab Injil di mana Yesus banyak membicarakan tentang
tanaman ada di dalam Matius pasal 13. Perumpamaan tentang lalang di antara gandum
tampaknya mendapat perhatian khusus dari Yesus sehingga Ia menjadikan sebagai
materi pelajaran yang harus disampaikan-Nya kepada halayak ramai.
Skenario dari narasi perumpamaan yang
disampaikan oleh Yesus adalah sebagai berikut. Di awal episode, Yesus
mengumpamakan perihal Kerajaan Sorga bagaikan penabur yang menabur benih yang
baik di ladangnya. Tetapi saat malam hari tiba, di kala orang pulas tertidur,
datanglah musuh dari tuan pemilik ladang untuk menabur benih lalang di ladang
gandum miliknya (Mat. 13:24-25). Kemudian episode dilanjutkan dengan munculnya
ke “pentas drama” para pekerja yang siap melontarkan pertanyaan kepada tuan
sang pemilik ladang gandum. Adalah hal yang menarik untuk mencermati pertanyaan
yang diajukan oleh para hamba tuan ladang, karena anda akan menemukan jawaban
yang menakjubkan. Mari kita cermati kelanjutan ceritanya.
Kehadiran Lalang di tengah ladang gandum
tampaknya menimbulkan dua pertanyaan. Pertama,
perihal, “dari manakah lalang itu?” (lihat Mat. 13:27). Pertanyaan
secara lugas dijawab, bahwa: benih lalang ditaburkan pada malam hari saat orang
tertidur, tentu sebagai maksud dari kejahatan terselubung (Mat. 13:25).
Penegasan Yesus kian menguatkan fakta bahwa lalang itu bukan berasal dari
kebaikan, tapi dari kejahatan dan benihnya ditaburkan di ladang gandum oleh
para musuh (lihat Mat. 13:25, 28). Walaupun gandum dan lalang sama-sama sebagai
tanaman rumput serta berada di lingkungan yang sama, tetapi mereka berbeda
dalam fungsi serta asal muasalnya.
Gandum dan Lalang adalah dua tanaman yang
sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Serupa dari sisi jenisnya,
tetapi tak sama dari sisi fungsinya. Gandum adalah makanan pokok yang sangat
berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Lalang hanya
menjadi makanan yang hanya diberikan untuk binatang, bukan untuk manusia.
Gandum adalah representasi dari manusia yang kehadirannya memberi dampak positif
bagi lingkungannya, berbeda dengan lalang yang fungsinya merusak dan meresahkan
lingkungan di mana ia berada. Gandum menggambarkan kebaikan, sementara lalang
adalah gambaran kejahatan. Gandum identik dengan berkat atau sesuatu yang
berfaedah, sedangkan lalang identik dengan laknat atau sesuatu yang tidak
berfaedah.
Lalang hidup dengan cara lebih banyak
menyerap sari makanan dari tanah, sehingga berdampak mengganggu pertumbuhan
gandum. Hal ini hendak menegaskan bahwa lalang mengidentifikasikan pribadi yang
memiliki sifat serakah dan tamak karena tidak mampu untuk berpuas diri.
Sebaliknya gandum mengidentifikasikan pribadi yang memiliki sifat mengalah dan
mampu untuk mencukupkan diri.
Sayangnya lalang dan gandum baru dapat
dibedakan ketika bulir-bulirnya muncul. Hal ini sebagai sinyalemen, terkadang
sulit membedakan antara yang baik dan jahat, seperti susahnya membedakan antara
lalang dengan gandum. Tetapi ada waktunya di mana “bulir-bulir gandum” atau
kebenaran akan muncul, sehingga terlihat jelas mana yang gandum dan mana yang
lalang.
Umat Allah yang digambarkan sebagai gandum
harus makin bertambah kuat agar tidak terjangkit “virus lalang” yang berada di
sekitarnya. Jangan pusingkan kehadiran lalang, tetapi pikirkanlah bagaimana
harus bertumbuh agar makin berkualitas, berdampak, teruji dan terpercaya. Tuhan
tidak suruh gandum untuk menghancurkan atau mencabut lalang dari lingkungan di
mana ia berada. Tuhan juga tidak memerintahkan malaikat untuk datang
mencabutinya. Lalang bukan untuk dimusuhi apalagi diperangi, melainkan dikasihi
dan dihadapi dengan penuh kesabaran. Meskipun lalang harus tumbuh di antara
gandum, tetapi gandum harus makin bertumbuh kuat dan meranum.
Pertanyaan kedua, “Jadi maukah tuan supaya
kami mencabut lalang itu?” (lihat Mat. 13:28). Menariknya dalam perumpamaan
ini, ditegaskan pelarangan untuk mencabutnya sebagai maksud untuk menjaga agar
gandum tidak sampai ikut tercabut (Mat. 13:29). Karena itulah, Yesus membiarkan
agar lalang dan gandum bertumbuh secara bersama hingga waktu menuai tiba (Mat.
13:30).
Menceramati secara seksama, saya menemukan
tiga kebenaran mendasar yang terkandung dalam perumpaan tentang lalang di
antara gandum. Pertama,
melalui perumpamaan ini, Yesus menetapkan suatu larangan di mana lalang tidak
boleh dicabut dari ladang gandum. Lalang dan gandum harus dibiarkan
hidup bersama di ladang yang sama. Artinya, kejahatan itu bukan untuk dicabut
atau dilenyapkan dari dunia ini atau dari lingkungan di mana orang percaya
berada, tetapi diredam atau diantisipasi laju dan modus kejahatannya. Kejahatan
tidak boleh dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan. Pembalasan
kejahatan adalah hak prerogative Allah, bukan hak yang harus dilakukan oleh
manusia (band. Rm. 12:17-18). Kita harus hidup dalam konstitusi dan umat Allah
harus menyerahkan kasus kejahatan dengan hukum atau konstitusi yang sudah
berlaku dan memberikan wewenang kepada pelaku hukum untuk menindaknya.
Setelah manusia jatuh dalam dosa, kejahatan
menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tetapi haruslah kita sadari bahwa Tuhan
tidak pernah menciptakan atau membuat kejahatan di dunia ini. Seperti halnya asal
dan tujuan lalang tersebut, maka kejahatan datangnya dari si jahat, bukan dari
Allah. Lalang adalah rekan sekerja dan menjadi alat yang dipakai oleh si jahat
untuk membuat dunia ini penuh dengan kejahatan. Selama iblis atau si jahat
masih ada di muka bumi ini, maka kejahatan itu pastilah selalu ada. Bila anda
ingin melenyapkan kejahatan dari dunia ini maka iblis yang seharusnya
dilenyapkan, bukan lalang atau manusia yang berlaku jahat oleh karena tipu daya
dari si jahat.
Mungkin anda berkata, mengapa Tuhan tidak
turun tangan untuk melenyapkan kejahatan dari dunia ini? Sifat utama Allah
adalah menyelamatkan, bukan melenyapkan atau membinasakan. Oleh
karena kasih setia-Nya sehingga Ia mau mengalah, tetapi tidak akan pernah terkalahkan.
Sepertinya Tuhan membiarkan kejahatan itu ada, karena sesungguhnya Dia hendak
menyatakan kebaikan di tengah-tengah kejahatan yang tengah melanda.
Pelarangan mencabut lalang sebagai bukti
bahwa Allah menentang arogansi atau “pencabutan” hak azasi manusia. Di negara
yang mengusung faham demokrasi, arogansi dan pelanggaran hak asasi manusia
adalah tindakan biadab dan tidak manusiawi. Marilah kita masuk kepada realita
kehidupan. Ketika seorang pendeta melakukan kejahatan moral, biasanya ada dua
keputusan yang mana salah satunya akan dijatuhkan kepadanya. Pertama, jabatan
atau posisinya sebagai pendeta dicabut, maka secara otomatis fungsinya sebagai
pendeta pun dinon-aktifkan, atau istilah umumnya dipecat. Kedua, jabatan atau
posisinya sebagai pendeta masih diberlakukan, tetapi fungsinya yang
dinon-aktifkan untuk sementara waktu hingga konsekuensi hukumannya berakhir,
atau istilah umumnya diskor. Bila anda diberi wewenang untuk memutuskan perkara
ini, jangan pernah abaikan pengajaran Yesus tentang perumpamaan lalang di
antara gandum.
Begitu pula ketika orang yang kita muridkan
berbuat dosa. Apakah statusnya sebagai murid dicabut, lalu ia dipecat sehingga
tidak berhak untuk mengikuti kelas pemuridan? Atau, statusnya masih tetap
sebagai murid dan berhak penuh untuk mengikuti kelas pemuridan, tetapi diberi
disiplin agar ia menyadari perbuatannya yang tidak mencerminkan keberadaannya
sebagai seorang murid Kristus? Di antara dua kasus di atas, saya sangat
menyetujui keputusan yang diambil adalah pilihan kedua. Bukankah seperti itu
makna yang terkandung dalam perumpamaan ini?
Kedua, melalui perumpamaan ini, manusia diberi suatu kesempatan
untuk memposisikan diri sebagai lalang atau gandum?Pantaslah bila Yesus
dikatakan sebagai Guru agung. Ia bukan semata cakap dalam memilih materi
pelajaran dan trampil dalam penguasaan metode pengajaran, tetapi kehidupan-Nya
juga adalah ajaran yang hidup. Yesus tidak hanya sekedar berwacana, tetapi juga
menerapkan apa yang dikatakan-Nya, seperti yang telah diperbuat kepada seluruh
murid-Nya, khususnya kepada Yudas Iskariot.
Dengan kemaha-tahuan-Nya pastilah Yesus
mengetahui bahwa Yudas adalah lalang, tetapi lalang itu dibiarkan-Nya berada
bersama dengan gandum dalam ladang yang sama. Yesus menegur, menyindir, bahkan
menghardik perbuatan Yudas sebagai suatu disiplin, tetapi bersamaan dengan itu
pula Yudas diberi kesempatan untuk berubah dan menyesali perbuatannya. Apakah
Yesus gagal karena Yudas murid-Nya itu tidak mau berubah? Tidak! Pada akhirnya,
Yudas sangat menyesali perbuatan dosanya, bahkan ia mengembalikan uang dari
hasil penghianatannya (lihat Mat. 27:3-5). Yang sangat disayangkan bukan
penyesalan Yudas yang terlambat, karena penjahat yang disalib bersama Yesus
juga bertobat mendekati saat kematiannya, tetapi yang sangat disesali adalah
tindakan bunuh diri yang dilakukannya (band. Kis. 1:18).
Negara kita Indonesia masuk dalam lima besar
negara yang tertinggi tingkat korupsinya. Saya sangat menyambut baik upaya
pemerintah untuk memberantas korupsi, tetapi kalau sistem kerjanya tidak
diperbaiki, maka korupsi akan terus terjadi, bahkan modus operandinya kian
bertambah canggih. Melalui perumpamaan ini Yesus Kristus sama sekali tidak
menentang hukum yang harus dijatuhkan kepada pelaku kejahatan, tetapi memberi
penekanan bahwa yang harus mendapat perhatian dan pengupayaan secara intensif
adalah “sistem pengolahan ladang” dan “perawatan gandum yang ada di ladang.”
Hal seperti itulah yang menginspirasi lahirnya pernyataan bijak seperti,
“There’s no good society, without good men” (tanpa manusia baik, tidak akan pernah
tercipta pemerintahan yang baik) atau “the right man in the wrong place”
(manusia benar di tempat yang salah). Karena itulah, sistem yang dipergunakan
perlu mendapat perhatian secara seksama.
Secara pribadi, ada dua hal di mana saya
bersikap radikal, tentunya sikap radikal ini didasari oleh keyakinan saya
terhadap Alkitab yang saya percayai sebagai kebenaran mutlak. Pertama,
menentang keras upaya yang bersifat korupsi karena itu perbuatan yang
menyengsarakan masyarakat banyak. Kedua, menentang keras diberlakukannya
hukuman mati terhadap seseorang yang melakukan kejahatan, termasuk juga
koruptor. Mungkin anda bertanya, lewat jalur mana anda menentangnya? Ada wadah
khusus yang disediakan bagi saya untuk menyatakan kebenaran yang saya yakini.
Bisa, melalui mimbar saat saya berkotbah atau melalui kampus tempat di mana
saya mengajar atau melalui tulisan yang sedang anda baca saat ini. Tetapi belum
tuntas mengenai apa yang hendak saya sampaikan. Pastinya, saya akan lebih
bersikap radikal bila koruptor yang tidak dihukum mati itu bisa seenaknya
keluar dari penjara hanya semata untuk menyaksikan pertandingan tennis atau
kongkow dengan keluarga dan handai taulannya. Wah itu lebih menyakitkan hati.
Nah, makanya Yesuslah yang benar, sistem peradilan dan penanganan terhadap para
hukuman perlu mendapat perhatian yang lebih seksama. Bukankah sistem yang baik
akan memperkecil kejahatan yang ada? Dan pastinya, sistem yang baik akan
memberi kesempatan bagi yang jahat untuk menjadi baik.
Begitu pula dengan kerukunan umat beragama. Sia-sia
kita ngomong dan mengupayakan kerukunan bila di dalam hati masih melekat
“stigma negatif” terhadap agama atau kepercayaan yang berbeda dengan kita. Saya
prihatin melihat gereja dilarang beribadah karena persoalan Ijin Mendirikan
Bangunan (IMB). Menurut saya sangatlah wajar bila ijin mendirikan gedung usaha perlu dikaji secara
seksama, tetapi mendirikan gedung ibadah
proses perijinannya seharusnya bersifat praktis dan taktis, tanpa mereduksi
nilai-nilai yuridis tentunya.
Setiap warga negara Indonesia memiliki hak
untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan enam agama yang telah mendapat
pengakuan negara, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu
memiliki hak yang sama untuk beribadah kepada Tuhan serta menjalankan syariat
agamanya masing-masing. Menurut hemat saya, yang perlu mendapat perhatian
secara seksama adalah implementasi
dari agama tersebut, bukan institusinya.
Bila umat dari suatu institusi agama berbuat kejahatan, bukan institusinya yang
ditutup melainkan ajaran, pengajar atau pelaku agamanya yang perlu direvisi dan
ditindaklanjuti agar tetap konsisten dalam konstitusi dan panggilannya.
Kewajiban aparat terkaitlah yang melakukan pembinaan,
bukan pembinasaan!
Tampaknya “drama” perumpamaan
tentang lalang di antara gandum masih “to be continue” belum “the end” dan saya
yakin anda tidak beranjak dan mengganti channel
yang ada. Episode dilanjutkan kembali dengan tema rasa ingin tahu dari para
murid sehingga mereka meminta Yesus untuk menjelaskan lagi maksud dari
perumpamaan yang telah disampaikan-Nya (lihat Mat. 13:36-42). Dengan bahasa
yang lugas dan sederhana Yesus menjawab, bahwa: orang yang menabur benih baik
itu adalah diri-Nya. Ladang adalah dunia. Benih yang baik itu anak-anak
Kerajaan Allah dan lalang adalah anak-anak si jahat. Sementara musuh yang
menabur benih lalang itu adalah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para
penuai adalah mailaikat Allah (lihat Mat. 13:37-39). Tampaknya jawaban Yesus
memberikan kejelasan, karena tidak ada pertanyaan lanjut yang dilontarkan oleh
murid-murid-Nya.
Ketiga, melalui perumpamaan ini, manusia diingatkan akan
adanya kelak suatu masa yang dinamakan akhir zaman.Seperti
kebanyakan kisah drama, di mana jagoannya selalu menang di bagian akhir (happy
ending). “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari
dalam kerajaan Bapa mereka” (Mat. 13:43a). Episode akhir dari “drama”
perumpamaan tentang lalang di antara gandum, merupakan kisah tragis yang sangat
mencekam dan menakutkan tentang nasib akhir yang akan dialami oleh penabur
lalang beserta dengan kroni-kroninya (lihat Mat. 13:40-43).
Perihal “akhir zaman” ditanggapi oleh
masyarakat modern dengan beragam sikap. Ada kelompok masyarakat yang
mempercayai keberadaan dan realitas akhir zaman, tetapi salah dalam
penerapannya. Mereka sibuk mencari tahu perihal tanggal kepastian mengenai
peristiwa akhir zaman, padahal hanya Allah semata yang mengetahui kapan
kepastiannya? Kita harus meyakini bahwa akhir zaman pasti akan terjadi, tetapi
tidak ada seorang pun dapat memastikan tanggal kepastiannya. Bila ada yang
merasa dapat memastikannya, sesungguhnya orang itu adalah pendusta belaka!
Kelompok masyarakat lainnya, berusaha menolak
keberadaan dan realitas neraka dengan sikap yang berbeda. Yang bersikap agak
halus, akan berkata, “Allah itu ada, tetapi Ia adalah Allah yang penuh kasih
sehingga Ia tidak akan dan tidak mungkin menyuruh seseorang ke neraka.” Ada
juga yang bersikap mengejek dengan pongahnya sambil berkata, “Allah mungkin
ada, tetapi bodohlah untuk memikirkan tentang banyak sekali roh tanpa tubuh
yang tersiksa dalam suatu lautan api sesungguhnya di suatu tempat.” Dan yang
terang-terang menentang adanya neraka, seperti Ateis Robert G. Ingersoll dengan
sinis mengatakan, “Ide tentang neraka lahir dari keinginan untuk membalas
dendam serta kekejaman di satu pihak, dan kepengecutan di pihak lain... Aku
tidak menaruh respek kepada orang yang memberitakan hal tersebut... Aku tidak
menyukai doktrin ini, aku membencinya, aku tidak menghargainya, aku menentang
doktrin ini!” (H.L. Willmington, Eskatologi. Malang: Gandum Mas, 1994, hal. 332).
Manusia cendrung meragukan akan
sesuatu yang bersifat supra natural, mungkin karena tidak dapat dilihat secara
kasat mata. Tetapi apakah sesuatu yang bersifat supra natural itu sesungguhnya tidak ada, atau karena faktor tidak tahu? Apakah sesuatu yang tidak
dapat kita ketahui, itu pasti tidak ada? Apakah sesuatu yang tidak dapat kita
lihat, harus ditolak dan tidak perlu untuk dipercayai?
Ambillah satu contoh. Bisakah anda
memperlihatkan kepada saya letak hati nurani di dalam diri manusia, atau posisi
pikiran tepatnya terletak di mana? Saya yakin anda pasti dapat memastikan bahwa
otak berada di kepala, begitu pula dengan hati yang berada di bagian dalam
tubuh kita. Alangkah naifnya, bila anda tidak mempercayai adanya hati nurani
atau pikiran dalam diri manusia sehingga mengatakan bahwa keberadaannya tidak
ada. Lebih naif lagi, bila anda mengartikan bahwa itu berupa kiasan yang harus
ditafsirkan secara simbolis atau alegori. Mungkin didasari akan hal itulah,
maka Yesus mengakiri perumpamaan-Nya dengan kalimat seru, “Siapa bertelinga,
hendaklah ia mendengar!” (lihat Mat. 13:43b).