Jumat, 13 Januari 2012

Benarkah Alkitab Telah Diubahkan?



Benarkah Alkitab Telah Diubahkan?
Oleh: Pdt. Rudy R. Sirait, S.Th, MA.CE

Banyak orang beranggapan bahwa Alkitab telah diubahkan. Asumsi mereka bahwa kaum Yahudi bersama dengan orang Kristen telah mengubah kitab Injil, Zabur dan Torah, sehingga tidak asli lagi. Akibatnya di mata mereka, Alkitab telah kehilangan otoritas sebagai firman Allah.
            Padahal bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tidak pernah berubah. Tuduhan-tuduhan di atas, pada hakekatnya adalah tuduhan palsu yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Karena itu sebagai umat Kristiani janganlah bungkam, tetapi harus berani berapologetika, membela dan membuktikan kebenaran Kristen tanpa arogansi dan kesombongan tentunya (band. 1 Ptr. 3 : 15).
            Dalam bagian ini saya berusaha untuk memberi pertanggungjawaban atas tuduhan-tuduhan yang melemahkan iman Kristiani melalui argumentasi ketidak berubahan Alkitab. Sehingga dicapai suatu harapan dengan terbentuknya suatu kesadaran bahwa tuduhan itu tidak benar adanya.



1. Bukti Dalam Alkitab

            Pertama, Alkitab sendiri menyatakan bahwa Allah yang mewahyukan secara khusus kepada para penulisnya (Kel. 4:14-16; 2 Sam. 23:2; 2 Tim. 2:13-14). Ditegaskan bahwa Wahyu yang keluar dari bibir-Nya tidak akan diubahkan (Mzm. 89:35). Dalam Perjanjian Baru, Yesus kembali menegaskan tidak akan terjadi satu perubahan pun dalam Hukum Taurat (Mat. 5:18).
Salah satu faktor yang menyebabkan bahwa tidak akan pernah terjadi perubahan pada Kitab suci Alkitab oleh karena Alkitab itu sendiri sebagai alat komunikasi Allah dengan umat-Nya. Tentulah Allah terlibat secara permanen dalam menjaga kelestarian firman-Nya. Paul Enns dalam bukunya berjudul The Moddy Hand book of Theology berkata bahwa, Wahyu bisa diartikan sebagai tindakan Allah, untuk menyatakan diri, mengkomunikasikan kebenaran kepada akal pikiran (manusia), sebuah cara memanifestasikan diri kepada ciptaan-Nya tentang hal-hal yang tidak bisa diketahui dengan cara lain. Karena Alkitab adalah media yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan diri-Nya pastilah Dia sendiri akan menjaga kelestarian Alkitab tersebut. Kemakuasaan Allah tentunya tidak perlu untuk digarukan dalam hal ini.
            Kedua, ada 3808 kali dalam Perjanjian Lama berupa pernyataan secara langsung: Allah berfirman… Firman Allah… Kata Tuhan… dan ungkapan-ungkapan yang sejenis (Kel. 14:1; Ul. 32:48; Yes. 43:1; Yer. 11:1; Yl. 1:1). Perjanjian Baru juga mereferensi melalui pernyataan tegas bahwa Alkitab adalah firman Allah (Yoh.10:35; Mat. 15:6; I  Kor. 2:13; I  Tes. 2:13; Ibr. 4:12).
            Ketiga, pengilhaman tersebut meliputi per-kata, dan bukan per-bagian (Yer. 1:9; 2 Tim. 3:16; 2 Ptr. 1:21). Mencermati kata Yunani mengenai istilah diilhamkan memiliki pengertian: dinafaskan Allah atau dihembuskan oleh Allah. Gagasan, prinsip atau ilham mutlak  dan absolut berasal dari Allah. Dan seluruh penulis Alkitab menuliskan ilham dari Allah tersebut dengan gaya tulisan dan kapasitas intelektual mereka masing-masing. Tetapi di saat mereka menuliskan apa yang diilhamkan Allah kepada para penulis kitab tentunya Allah senantiasa mengontrol mereka sehingga tulisan mereka tidak salah namun benar adanya. Hal inilah yang dipahami sebagai konsep pengilhaman Alkitab.
            Keempat, Allah berfirman bahwa perkataan-Nya kekal, tidak akan berkesudahan walaupun langit dan bumi akan berubah (band. Mat. 24:32; Mrk. 13:31; Why. 14:6), Sabda Allah itu tidak mungkin berubah!


2. Bukti Akurasi Nubuatan Dalam Alkitab

Ketidak berubahan Alkitab juga bisa dibuktikan dengan penggenapan nubuatan yang terjadi dalam sejarah. Akurasi nubuatan selalu tergenapi seperti: Pertama, nubuatan bahwa Babel akan ditaklukan oleh Persia (Yes. 13:19-21), digenapi pada tahun 539 Sebelum Masehi (SM), sedangkan Yesaya yang menyampaikan nubuatan itu hidup sekitar tahun 700 SM. Kedua, nubuatan Tirus (Yeh. 26:3-14) ditulis pada tahun 600 SM, dan lima abad kemudian pada abad 13 nubutan ini digenapi ketika kaum Muslimin menyerang mereka. Ketiga, adanya banjir besar yang akan menimpa Niniwe (Nah. 2:6) ditulis abad 9 SM dan digenapi pada tahun 612 SM.
Keempat, nubuatan runtuhnya Bait Allah (Mat. 24:2) yang diucapkan oleh Yesus sekitar tahun 30 Masehi (M). Nubuatan ini kemudian digenapi pada tahun 70 M di mana Jenderal Titus menghancurkan kota Yerusalem termasuk juga penghancuran bait Allah. Sejak saat itu hingga sekarang tidak lagi ada Bait Allah yang merupakan kebanggaan bagi orang Yahudi. Beberapa penafsir berspekulasi tentang pendirian kembali Bait Allah. Memang tidak ada yang tahu kapan Bait Allah ini akan didirikan kembali, tetapi suatu hari Bait Allah akan berdiri kembali. Kitab Wahyu menginformasikan bahwa nantinya Bait Allah inilah yang menjadi wadah yang akan dipergunakan oleh Antikris untuk mengendalikan manusia di masa kesusahan (tribulasi).
Kelima, nubuatan tentang orang tua yang makan anak sendiri dalam Imamat 26:29, digenapi secara akurat. Akibat blokade dan kelaparan, Josephus menulis tentang Miriam bat Eliezer yang merebus daging putranya lalu dimakan (War of The Jews, 6:3,4). Akibat ketidak taatan kepada Yahweh, Israel dinubuatkan akan tersebar kemana-mana (Im. 26:33; Ul. 28:64). Setelah penghancuran Bait Allah yang kedua kalinya bangsa Israel mulai tersebar ke seluruh dunia. Tuhan yang penuh kasih menubuatkan bahwa bangsa Israel yang tercerai berai itu akan kembali pulang ke negeri mereka (lihat Yeh. 39:25-28; Yes. 11:11)). Nubuatan ini sudah digenapi dan akan terus menerus digenapi. Israel terbentuk sebagai bangsa lebih dari 3.000 tahun, lalu mereka tercerai berai selama 2.000 tahun. Tanggal 14 Agustus 1948 menjadi catatan sejarah di mana Israel menjadi bangsa yang merdeka secara nasional. Ajaibnya, Israel tetap utuh sepanjang zaman meskipun mereka sempat tercerai berai. Bangsa-bangsa kuno yang demikian sudah punah, tetapi Israel survive.  Selama hampir 2.000 tercerai berai tanpa ada organisasi nasional, tanpa tanah air, tanpa negara dan tanpa kekuatan politik tetapi tetap utuh; mereka tidak terserap karena direservasi oleh Allah. Alkitab menubuatkan bahwa bangsa Israel akan menjadi kedahsyatan, kiasan dan sindiran di antara segala bangsa (lihat Ul. 28:37). Dan adalah suatu fakta bahwa Israel adalah bangsa yang paling banyak didiskusikan sejak dahulu kala hingga sampai saat ini.


3. Bukti Dari Al-Quran

Al-Qur’an tidak pernah mengatakan secara eksplisit bahwa orang Kristen telah mengubah Alkitab. Ayat-ayat yang sering dikutip (Q.S. 2:63-121; 3:72; 4:44-48; 7:161-171) hanya berkata bahwa orang Yahudi menyelewengkan Kitab Suci. Menyelewengkan bukan berarti mengubahkan! Kemungkinan  faktor sikap hidup orang Kristen pada saat itu yang tidak sesuai dengan firman Allah. Penyelewengan itu kemungkinan disebabkan oleh penafsiran Alkitab yang tidak alkitabiah. Saya setuju bila hal seperti itu dimaksudkan sebagai penyelewengan firman Allah, bukan mengubahkannya. Sebaliknya terlihat banyak ayat yang positif mengenai Taurat, Zabur, dan Injil yang ada di tangan Muhammad SAW pada bagian pertama abad ketujuh Masehi.
Dalam ceramah pada kelas Islamologi, Jon Culver mendata kesaksian Al-Qur’an tentang keberadaan Taurat, Zabur dan Injil sebagai firman Tuhan, yaitu sebagai berikut: Pertama, Kitab Suci ada karena Allah menurunkannya (Q.S. 3:3, 4:163, 5:43, 17:55). Kedua, Taurat, Zabur dan Injil disebut sebagai Kitab Allah dan di dalamnya berisi pimpinan kebenaran dan cahaya yang terang: Q.S. 5:44, 46. Ketiga, Al-Qur’an memberi penegasan di mana, tidak seorangpun yang dapat menukarkan perkataan Allah (Al An’ Aam 6:34 band. Yunus 10:64). Menurut konteks An’ Aam 6:34, yang tidak dapat ditukar ialah Wahyu yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelum nabi Muhamad. Artinya, Wahyu Allah yang diturunkan kepada seluruh rasul sebelum Muhammad ada, tidak akan pernah seorangpun dapat menukar atau mengubahkannya karena Allah akan menjaga secara seksama kitab-Nya. Lain halnya dengan tulisan-tulisan siapapun setelah Muhammad SAW, pastilah dapat diubahkan. Seluruh kitab dalam Alkitab ditulis sekitar enam abad jauh sebelum nabi Muhammad ada. Keempat, Kaum Yahudi dan Kristen diperintahkan untuk membaca dan patuh kepada Kitab suci. (Q.S. 5:68): Kaum Islam juga diperintahkan demikian, baik secara langsung maupun tidak langsung (Q.S. 2:136, 3:84, 4: 136, 29:46, 42: 15). Dan yang kelima, kalau Al-Qur’an dibaca secara seksama, maka tidak terdapat didalamnya satu ayatpun yang menyatakan bahwa TEKS Alkitab telah diubah, hilang atau dipalsukan.
Setelah membaca Al-Qur’an secara komprehensif, Thomas P. Hughes berhenti pada satu kesimpulan hipotesis bahwa: Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an mengenai Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen adalah amat banyak dan di dalam setiap ayat, Muhammad SAW membicarakan keberadaan Kitab Suci ini dengan hormat tinggi. Ia mengakui keilhamannya, mengakui adanya kitab-kitab ini di masanya sendiri dan memakainya untuk mendukung utusannya sendiri.


4. Bukti Arkeologis

Beberapa fakta arkeologis membuktikan kebenaran Alkitab secara validitas. Yang menarik, hasil penemuan arkeologis itu secara keseluruhan isinya sama dengan isi dan peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Alkitab yang Kita miliki sekarang ini.
Pertama, 15.000 lempengan tanah liat yang belum lama ini ditemukan di Tell Merdikh yang membuktikan bahwa Sodom dan Gomora sebagai kota yang pernah ada.
Kedua, penemuan gulungan kitab di gua-gua Qumran yang terletak di sekitar Laut Mati, memberi kelegaan bagi umat Kristiani karena isinya sama dengan isi Alkitab kita sekarang ini. Beberapa gulungan kitab lainnya juga menjadi saksi mata seperti: Codex Alexsandrinus – di British Museum, London, ditulis 170 tahun sebelum hijria. Codex Sinaiticus – di British Museum, London, ditulis 270 tahun sebelum hijria. Codex Vaticanus – di perpustakaan Vatikan di kota Roma, ditulis 300 tahun sebelum hijria.
Ketiga, seluruh salinan yang tersimpan di museum berjumlah 5000 buah (yang ditulis dari abad 2 SM sampai abad 12 M) dan tidak menunjukkan perbedaan penulisan sampai hal yang sekecil-kecilnya.
            Data-data Arkeologis membuktikan bahwa tuduhan atau asumsi bahwa Alkitab telah diubah merupakan kekeliruan belaka karena tidak terdapat perubahan sama sekali mengenai isinya. Alkitab adalah firman Allah dan firman itu kekal adanya. Hakekat kekekalan Alkitab itulah yang akan menggagalkan kuasa-kuasa si jahat untuk merubah eksistensinya sebagai Kitab suci.
            Meragukan keabsahan Alkitab sebagai wahyu Allah karena naskah asli Alkitab sudah musnah, sebagai tindakan yang naif. Karena yang penting isi tulisan yang diturunkan bukan bahannya sendiri. Bukan disintegrasi tetapi isi tetap dipreservasi (bukan punah tetapi isi tetap terpelihara). Kekristenan menentang tegas praktek
Bibliolatri (Penyembahan Kitab Suci) tetapi menekankan agar umat Allah menjadi pelaku firman ( Mat. 7:24-27; Yak.1:22) dan menjadi dirinya sebagai kitab terbuka yang kehidupannya senantiasa indah dibaca oleh setiap orang (band. 2 Kor. 3:3).
            Mengakhiri tulisan ini, Saya merasa perlu untuk mengajak Kita semua mencermati pernyataan teolog besar Flavius Josephus perihal studi topik tentang ketidak berubahan Alkitab. Josephus berkata, Kita telah memberikan bukti praktis mengenai penghargaan atau penghormatan kita terhadap Kitab Suci yang kita miliki. Karena, meskipun berabad-abad telah lewat, akan tetapi tidak ada seorangpun yang memberanikan diri untuk menambah atau meniadakan, atau mengubah satu suku katanya. Sudah merupakan suatu naluri dalam diri setiap orang Yahudi sejak lahirnya untuk mengakui kitab-kitab itu sebagai firman Allah lalu patuh kepada firman-Nya dan jika perlu, dengan rela mati demi kitab-kitab itu. Berulang-ulang telah disaksikan bahwa para tahanan lebih suka menderita berbagai bentuk siksaan bahkan kematian di gelanggang, dari pada mengucapkan sepatah kata yang menentang kitab Taurat dan kitab-kitab dalam Kitab Suci.
            Jadi Alkitab yang ada pada Kita sekarang ini tidak ubahnya dengan Alkitab para nabi-nabi dahulu kala atau Kitab suci orang Kristen mula-mula, isinya tetap sama dan tidak diubahkan. Allah ijinkan naskah asli Alkitab dimusnahkan tetapi Ia tidak berkenan isinya juga termusnahkan. Memang Kaisar Romawi bernama Diocletianus telah membakar Alkitab asli (original text) jilid perjilid pada tahun 303 Masehi. Hal ini menjadi bagian dalam sejarah kekristenan yang tidak perlu ditutup-tutupi. Orang Kristen memang tidak memiliki teks asli Kitab Suci tetapi jangan pernah diabaikan bahwa sebelum yang asli dimusnahkan, bukankah sudah banyak salinan atau copy yang dibuat? Dengan musnahnya teks asli dan ditemukannya salinan-salinan abad permulaan, keakurasian di antara keduanya yakni teks aslinya dan juga salinannya membuktikan kewibawaan Alkitab sebagai firman Allah yang tidak dapat diubahkan.
            Jangan pernah ragu dengan keberadaan Alkitab sebagai firman Allah. Tetapi bersandar dan berpadananlah dengan perkataan Allah yang sudah dibukukan dalam Alkitab. Memang ada banyak cara Allah berkomunikasi kepada umat-Nya tetapi komunikasi Allah yang paling mutlak kepada umat-Nya ialah komunikasi melalui Alkitab. Sediakan waktu dalam tiap-tiap hari untuk merenungkan dan melakukan firman-Nya dengan sukacita, maka iman Kita akan bertumbuh (Rm. 10:17, band. Mat. 13:8), langkah kaki Kita akan mengarah kepada jalan dan kehendak Allah (Mzm. 119:9, 105) hingga segala pekerjaan yang akan Kita kerjakan akan dibuat Tuhan berhasil (Yos. 1:8; Mzm. 1:2-3).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar